Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Februari 2016


Jenis dan karakteristik pupuk kandangPupuk kandang merupakan pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang digunakan untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman. Pupuk kandang berperan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Komposisi unsur hara yang terdapat pada pupuk kandang sangat tergantung pada jenis hewan, umur, alas kandang dan pakan yang diberikan pada hewan tersebut.

Setiap jenis hewan tentunya menghasilkan kotoran yang memiliki kandungan hara unik. Namun secara umum kotoran hewan mengandung unsur hara makro seperti nitrogen (N), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan belerang (S). Bila dibandingkan dengan pupuk kimia sintetis, kadar kandungan unsur hara dalam pupuk kandang jauh lebih kecil. Oleh karena itu, perlu pupuk yang banyak untuk menyamai pemberian pupuk kimia.

Seperti jenis pupuk organik lainnya, pupuk kandang memiliki sejumlah kelebihan seperti kemampuannya untuk merangsang aktivitas biologi tanah dan memperbaiki sifat fisik tanah. Hanya saja kelemahannya adalah bentuknya yang kamba (bulky) dan tidak steril, bisa mengandung biji-bijian gulma dan berbagai bibit penyakit atau parasit tanaman.
Jenis-jenis pupuk kandang

Dilihat dari bentuknya, terdapat pupuk kandang padat dan cair. Pupuk padat biasanya didapatkan dari tahi (feses) sedangkan pupuk cair diambil dari air kencing (urine). Ada juga yang diambil dari campuran feses dan urine, biasanya berbentuk campuran kental seperti lumpur. Selain bentuk fasa-nya, ada juga pupuk kandang yang berupa campuran antara kotoran dengan material lain. Seperti, kotoran ayam yang bercampur dengan sekam padi yang dijadikan alas kandang atau kotoran sapi yang bercampur jerami. Berikut ini, beberapa jenis pupuk kandang yang banyak dipergunakan.

a. Kotoran sapi

Pupuk kandang dari kotoran sapi memiliki kandungan serat yang tinggi. Serat atau selulosa merupakan senyawa rantai karbon yang akan mengalami proses dekomposisi lebih lanjut. Proses dekomposisi senyawa tersebut memerlukan unsur N yang terdapat dalam kotoran. Sehingga kotoran sapi tidak dianjurkan untuk diaplikasikan dalam bentuk segar, perlu pematangan atau pengomposan terlebih dahulu. Apabila pupuk diaplikasikan tanpa pengomposan, akan terjadi perebutan unsur N antara tanaman dengan proses dekomposisi kotoran.

Selain serat, kotoran sapi memiliki kadar air yang tinggi. Atas dasar itu, para petani sering menyebut kotoran sapi sebagai pupuk dingin. Tingginya kadar air juga membuat ongkos pemupukan menjadi mahal karena bobot pupuk cukup berat. Kotoran sapi telah dikomposkan dengan sempurna atau telah matang apabila berwarna hitam gelap, teksturnya gembur, tidak lengket, suhunya dingin dan tidak berbau.

b. Kotoran ayam

Kotoran ayam sangat diminati petani sayuran daun karena reaksinya yang cepat, cocok dengan karakter sayuran daun yang rata-rata mempunyai siklus tanam pendek. Pupuk ini mempunyai kandungan unsur hara N yang relatif tinggi dibanding pupuk kandang jenis lain. Terlebih lagi, unsur N dalam kotoran ayam bisa diserap tumbuhan secara langsung, sehingga relatif tidak perlu proses dekomposisi terlebih dahulu.

Pupuk kandang ayam biasanya diambil dalam bentuk campuran dengan sekam padi, terutama untuk kotoran ayam pedaging (broiler). Sekam padi digunakan para peternak ayam sebagai alas kandang. Ketika kandang dibersihkan kotoran akan bercampur dengan sekam tersebut. Sekam padi ikut memperkaya zat hara terutama untuk unsur K. Kotoran ayam broiler juga mengandung unsur P yang lebih tinggi.

Selain beberapa kelebihannya, kotoran ayam rentan membawa bibit penyakit terutama bakteri jenis Salmonella. Oleh karena itu pemanfaatannya harus hati-hati dan digunakan sesuai kebutuhan. Kekhawatiran lain adalah penggunaan obat-obatan dan hormon pada peternakan ayam akan terbawa kedalam kotoran ayam. Kontaminan ini tentunya tidak diharapkan bagi para petani sayur organik.

c. Kotoran kambing

Kotoran kambing teksturnya berbentuk butiran bulat yang sukar dipecah secara fisik. Kotoran kambing dianjurkan dikomposkan dahulu sebelum digunakan hingga pupuk menjadi matang. Ciri-ciri kotoran kambing yang telah matang suhunya dingin, kering dan relatif sudah tidak bau.

Kotoran kambing memiliki kandungan K yang lebih tinggi dibanding jenis pupuk kandang lain. Pupuk ini sangat cocok diterapkan pada paruh pemupukan kedua untuk merangsang tumbuhnya bunga dan buah.

d. Air kencing (urine)

Selain kotoran yang berbentuk padat, urine juga bisa dijadikan pupuk untuk tanaman. Urine merupakan buangan dari sisa-sisa metabolisme dalam tubuh. Urine mengandung kadar nitrogen yang tinggi, hasil dari perombakan metabolisme protein. Selain nitrogen, urine juga mengandung sulfur dan pospat.

Urine yang paling populer digunakan sebagai pupuk cair adalah urine kelinci, karena memilki kandungan unsur hara N yang cukup tinggi mencapai 2,72%. Cara penggunaannya pun cukup mudah yaitu dengan mengencerkan 1 liter urine kedalam 20 liter air bersih. Kemudian campuran tersebut disemprotkan pada tanaman sebagai pupuk daun. Pupuk kandang dari urine juga bisa dicampur dengan pupuk kandang padat dan diaplikasikan sebagai pupuk pada tanah. Selain untuk pupuk, urine hewan ternak sering dimanfaatkan untuk membuat pestisida organik atau pupuk hayati.
Pengomposan pupuk kandang

Pengomposan pupuk kandang bermanfaat untuk menguraikan bahan-bahan organik yang terdapat dalam kotoran, sehingga menjadi sumber-sumber hara yang stabil dan bisa diserap tanaman. Proses pengomposan mengeluarkan panas, energi panas ini sekaligus juga akan membunuh bibit penyakit dan mematikan biji-bijian gulma. Sehingga pupuk kandang yang telah dikomposkan relatif lebih aman dari penyakit dan hama tanaman.

Menurut penelitian Balittanah (2006), pengomposan pupuk kandang akan meningkatkan kadar hara makro. Zat-zat hara yang terkandung dalam kotoran, akan diubah menjadi bentuk yang mudah diserap tanaman. Seperti unsur N yang mudah menguap akan dikonversi menjadi bentuk lain seperti protein.

Pada prakteknya, pengomposan pupuk kandang akan lebih efektif apabila ditambahkan dengan inokulan seperti EM3 dan dibolak-balik setiap hari. Namun kebanyakan peternak membiarkan kotoran ternak menumpuk hingga menjadi pupuk yang matang digunakan. Bahkan jenis kotoran unggas biasanya jarang dikomposkan terlebih dahulu, setelah diambil dari kandang, kotoran tersebut langsung diaplikasikan ke lahan pertanian.
Aplikasi pupuk kandang

Pupuk kandang sudah digunakan para petani sejak berabad-abad lampau, baik itu dalam keadaan segar maupun yang telah dikomposkan. Pupuk kandang menyediakan semua unsur hara makro bagi tanaman, terutama nitrogen. Nitrogen yang terdapat dalam pupuk kandang berbentuk nitrat, suatu zat yang mudah larut dan diserap akar tanaman. Bentuk seperti ini sama dengan yang disediakan oleh pupuk kimia sintetis.

Penggunaan pupuk kandang di lahan kering diberikan dengan berbagai cara, seperti ditebarkan di atas tanah, dicampur saat pengolahan tanah, diberikan dalam larikan, atau diberikan pada lubang tanam. Para petani tanaman sayuran biasa memberikan pupuk kandang dalam jumlah besar dengan dosis 20-75 ton per ha. Sedangkan untuk tanaman pangan, seperti jagung dan kacang-kacangan lebih sedikit.

Pemberian pupuk kandang tidak langsung efektif pada musim tanam pertama, tapi akan memberikan hasil yang signifikan setelah diberikan pada musim tanam kedua dan selanjutnya. Hasil penelitian Balittanah terhadap tanaman jagung menujukkan pada pemberian musim pertama hanya menambah hasil panen sebesar 6% tetapi pada musim kedua naik hingga 40%.

Jenis pupuk kandang dari kotoran unggas secara umum memberikan hasil yang lebih cepat dibanding kotoran sapi atau kambing. Karena unsur hara dalam pupuk kandang ayam tersedia dalam bentuk yang dapat langsung diserap tanaman. Sementara pada kotoran sapi dan kambing memerlukan proses penguraian terlebih dahulu.

Penggunaan pupuk kandang di lahan sawah lebih sedikit dibanding lahan kering (pangan dan sayuran). Biasanya petani menggunakannya sebagai tambahan pupuk kimia dengan dosis kurang dari 2 ton per ha.

Kamis, 12 November 2015


Rabu, 11 November 2015


Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) M.S. Sembiring mengatakan, rata-rata petani di Indonesia hanya mengantongi Rp 200 ribu per bulan, angka yang sangat kecil dibanding dengan harga bahan pokok yang terus meroket.

“Petani merupakan  profesi yang banyak ditinggalkan penduduk Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat pada tahun 2003 masih ada 31 juta rumah tangga usaha tani. Satu dekade kemudian, jumlahnya merosot jadi 26,5 juta,”kata sembiring dalam siaran pers yang dikirim ke Flobamora.net, Jumat (16/10) bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia tahun 2015.

Menurut dia,  mengutip pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada awal Maret lalu, minat warga Negara Inodnesia menjadi petani turun karena penghasilannya yang sangat minim.

Dia menjelaskan, penurunan jumlah petani itu berpotensi mengganggu target swasembada beras sebesar 73,4 juta ton gabah kering giling. Tapi, apakah petani harus menggantungkan mata pencahariannya terhadap beras semata?

“Rata-rata petani sawah di Indonesia mempunyai lahan garapan sekitar 0,3 hektar. Sudah saatnya petani di Indonesia berdaya,” ujarnya.
Dia menuturkan, petani sebagai soko pangan di Indonesia perlu mendapatkan perlindungan agar kehidupannya lebih baik.

Kata dia, Badan Pangan dan Pertanian dunia (FAO) menggarisbawahi nasib petani dalam hari pangan sedunia yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober. Tahun 2015 ini, tema haripangan sedunia “Perlindungan Sosialdan Pertanian: memutus siklus kemiskinan di pedesaan”. Adapun untuk Indonesia temanya adalah “Pemberdayaan Petani Sebagai Penggerak Ekonomi Menuju Kedaulatan Pangan.”

Sementara Puji Sumedi, Program Officer untuk Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI menyatakan ada tiga kata kunci dalam tema hari pangan tahun ini. “Pemberdayaan Petani, Penggerak Ekonomi dan Kedaulatan Pangan,” ujarnya.

Dia menguraikan, memulai dari pemberdayaan petani, bisa dirujuk data-data dari Badan Pusat Statistik tentang nasib petani. Data sudah bicara bahwa profesi petani tak lagi menjadi pilihan utama generasi muda. Tetapi, semacam kewajiban turun temurun atau memang tak ada lagi pilihan pekerjaan yang lain.

Di Indonesia, tambahnya, nasib petani seakan tak berjamin. Jika gagal panen dan lahan tergadai, pemerintah belum bisa mengulurkan tangannya. Setidaknya angin sejuk sudah berhembus mulai pekan pertama Oktober 2015. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan mulai pekan ini, petani yang gagal panen biasa mendapatkan uang santunan asuransi pertanian.

“Kebijakan tersebut berlaku, lantaran dana premi asuransi sebesar Rp 150 miliar kepada Asuransi Jasindo sebagai penyelenggara asuransi pertanian sudah dicairkan,” kata Puji.
Puji menambahkan, langkah positif tersebut perlu dukungan dari internal petani. Artinya, petani juga harus cerdas dan inovatif sesuai dengan kondisi geografis dan iklim setempat.
puji mencontohkan untuk petani di Nusa Tenggara Timur yang kering, lebih membutuhkan teknik pertanian dengan memanfaatkan sedikit air yang bisa tumbuh subur di lahan kering. Sehingga diharapkan petani bisa tetap mendapatkan pendapatan, tanpa tergantung dengan musim. Kesejahteraan petani akan membuat profesi ini berkelanjutan, karena generasi muda melihat menjadi petani adalah profesi yang menjanjikan. Merujuk pada kata kunci kedua, bahwa pemberdayaan petani sebagai penggerak ekonomi pun bisa terwujud.

Kata kunci terakhir adalah kedaulatan pangan. Undang-Undang Pangan No 18 Tahun 2012 sudah mendefinisikan kedaulatan pangan dalam pasal satu ayat 2.
Kedaulatan Pangan adalah hak Negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan pangan yang menjamin hak atas pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal. Definisi tersebut menegaskan posisi pangan lokal. Sayang, menurut Puji, kedaulatan pangan belum ditanggapi serius oleh pemerintah.

Bukti nyata adalah target swasembada pangan. Bisa dilihat jumlah yang harus dicapai hanya berkutat pada varietas padi, jagung dan kedelai (pajale). Padi dengan 73,4 juta ton gabah kering giling, jagung sejumlah 20 juta ton dan kedelai sebanyak 2, 5 juta ton.  “Idealnya sumber swasembada pangan itu tidak hanya diukur dari pajale, sesungguhnya potensi pangan Indonesia sangat kaya,” ujar Puji.
Sebagai umat beragama, menurut Puji, kita patut bersyukur kepada Tuhan yang menciptakan berbagai jenis pangan di bumi. Caranya adalah memanfaatkannya dengan baik untuk kehidupan masyarakat di Indonesia. “Ini adalah dasar yang paling sederhana untuk jadi landasan kebijakan,” kata dia.

Di samping berbagai alasan lain baik secara ilmiah maupun secara aspek sosial dan budaya sesungguhnya melestarikan anugerah keragaman pangan di Indonesia adalah suatu sikap yang bijak. Pelestarian tersebut terwujud dalam penanaman kembali sumber pangan lokal dan mengomsumsinya kembali.

KEHATI berjuang dan mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai salah satu sumber kedaulatan pangan yang tertuang dalam rencana strategis 2013-2017. Kepedulian terhadap potensi pangan di Indonesia juga masuk dalam empat tema utama program KEHATI yaitu Pangan, Energi, Kesehatan dan Air.

Dukungan KEHATI terhadap pemanfaatan sumber pangan lokal oleh petani bisa dilihat di kawasan Flores Timur dengan pemberdayaan petani pangan lokal. Di Sulawesi Utara, tepatnya di Pulau Sangihe, KEHATI juga mengajak petani untuk kembali bercocok tanam yang lestari untuk komoditas rempah dan sagu. Begitu pula yang KEHATI lakukan bersama para petani di Yogyakarta dengan memanfaatan aneka umbi


Rabu, 04 November 2015

PERTANIAN berkelanjutan adalah gerakan pertanianmenggunakan prinsip ekologi, studi hubungan antara organisme dan lingkungannya (Rural Science Graduates Association, UNE, 2002). Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kita telah belajar tentang rantai makanan, di mana semua makhluk itu saling berkaitan dan hidup berdampingan. Satu mata rantai makanan punah, maka akan mengganggu keseimbangan ekosistem lainnya.

Mari kita lihat kasus keberadaan tikus di sawah, binatang penggerat ini, sebelumnya bukanlah hama,melainkan makhluk Allah yang berhak hidup, berhak makan dan berhak berkembang dan populasinya tetap berada pada level keseimbangan, karena predatornya yakni Burung Hantu masih berada dalam populasi stabil.

Seiring dengan waktu bergulir dan pola kehidupan masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan pribadi tanpa memperhatikan habitat makhluk lain, jumlah populasi burung hantu semakin menurun dan bahkan bisa dibilang hampir punah. Alhasil, tikus semakin berkembang karena predatornya (burung hantu) telah punah. Berubahlah status tikus dari makhluk ciptaan Allah, menjadi hama tidak penting dan kemudian menjadi hama penting/utama.

Dan kemudian apa yang dilakukan manusia dengan segala keterbatasan pengetahuannya, lahirlah kebijakan di mana Dinas Pertanian dan Badan Penyuluhan (Bapeluh) mengintruksikan untuk membunuh tikus tanpa ada kajian dari keseimbangan ekologi-konsep PHT berupa:
(1) memasukkan asap ke liang sarang tikus, sehingga tikus mati karena sarangnya dipenuhi asap.
(2) meledakkan sarang tikus, sehingga tikus mati di dalam sarang akibat hulu ledak yang dihasil. Tindakan inilah yang saya sebut “kecerdasan moral” manusia sudah kritis dan menganggap makhluk selain manusia harus dimusnahkan.

Perlu diperhatikan pada kasus tikus, yang perlu diperhatikan adalah agroekosistem, di mana habitat Burung Hantu tetap terjaga sebagai predator tikus, saling ketergantungan satu mahkluk dengan makhluk lain adalah konsep dasar dalam kegiatan/usaha tani pertanianberkelanjutan. Ketika populasi tikus meningkat, maka meningkat pula populasi burung hantu. Ketika populasi tikus menurun, maka ikut menurun pula populasi burung hantu dan begitu seterusnya. Itulah kondisi keseimbangan alam sebagai komponen utama dalam pertanian berkelanjutan.
Perlu kita ingat satu firman Allah Swt dalam Alquran: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)

Hanya keterbatasan ilmulah kemudian manusia membuat kerusakan di muka bumi ini, sebagaimana firman-Nya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (kejalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Pertanian berkelanjutan telah didefinisikan sebagai sebuah sistem terintegrasi antara praktik produksi tanaman dan hewan dalam sebuah lokasi dan dalam jangka panjang memiliki fungsi sebagai berikut (Gold, M. United States Department of Agriculture, 2009): Memenuhi kebutuhan pangan dan serat manusia; Meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya alam berdasarkan kebutuhan ekonomi pertanian; Menggunakan sumber daya alam tidak terbarukan secara sangat efisien; Menggunakan sumber daya yang tersedia di lahan pertaniansecara terintegrasi, dan memanfaatkan pengendalian dan siklus biologis jika memungkinkan; Meningkatkan kualitas hidup petani dan masyarakat secara keseluruhan.

Tanpa menjaga keseimbangan alam, mustahil penggunaan musuh alami dalam mengelola organisme pengganggu tanaman (OPT) akan berhasil, karena musuh alami membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai dengan perkembangan populasinya. Kecerdasan moral dalam mengambil sebuah kebijakan akan menghasil tindakan yang tidak merusak/mengganggu ekosistem alam. Siapa yang salah ketika kawanan Gajah merusak kebun sawit? Apakah gajah yang salah atau manusia, yang membuka ribuan hektar kebun sawit, sehingga habitat gajah terganggu. Manusia hanya memikirkan keuntungannya saja, tanpa mempertimbangkan kelangsungan hidup hewan lain.
Kearifan lokal setiap daerah/gampong, sudah memiliki kearifan lokal atau adat istiadat secara turun-temurun, tapi karena tidak pernah tertulis, dari waktu ke waktu, kearifan lokal hilang sendiri, tenggelam oleh budaya luar. Padahal kearifan lokal itu memiliki kekuatan hukum yang mengikat penduduk setempat.
Aceh Selatan, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir mulai menggali kembali kearifan lokalnya. Hal ini terkait dengan langkanya dan bahkan hampir punahnya burung pemakan ulat penggerak batang pala. Ulat penggerek batang pala ini menjadi hama penting selain penyakit akar putih (JAP) pada tanaman pala. Predator ulat tersebut adalah burung Murai Batu, Murai Gampong dan Cempala. Harga ketiga burung tersebut sangatlah mahal, sehinggal masyarakat terus memburu burung tersebut. Alhasil, ulat penggerek batang pala terus bertambah seiring predatornya semakin berkurang.

Atas penomena tersebut, berdasarkan Kajian Konservasi Alam Lestari Kabupaten Aceh Selatan, pemerintah setempat melaksanakan program penggalian kearifan lokal/pengetahuan lokal di beberapa desa sebagai pilot project dalam melestarikan ekosistem terkait kasus ulat penggerek batang pala. Di antaranya poin kebijakannya adalah dilarang menangkap, memelihara dan memperjual-belikan burung pemakan ulat penggerek tanaman pala, seperti; Murai Batu, Murai Kampong, Cempala dan jenis burung pemakan ulat lainnya.

Kearifan lokal/pengetahuan lokal inilah yang kemudian dijadikan dasar sebagai Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk tata ruang Aceh selatan. Ini sesuai dengan UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, di antaranya memuat klausul mengenai KLHS sebagai satu instrumen dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dan ini sangat sesuai dengan strategi pertanian berkelanjutan.

Kerusakan lingkungan tidak akan memberi pengaruh positif dalam penerapan konsep biological control. Keseimbangan ekosistem alam menjadi tulang punggung dalam pertanianberkelanjutan sehingga keberadaan musuh alami dari OPT tetap berada pada keadaan stabil dan OPT pun bisa tertekan di level ambang keseimbangan.


(Khaidir, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama Aceh (Unaya)

Senin, 02 November 2015


Bersikap jujur, berani mengambil risiko ditunjang pula dengan kreatifitas di pertanian, Udin Mac sukses di usaha pertanian dan penggilingan padi.
Udin Mac pada awalnya tidaklah ahli di bidang pertanian. Ia hanya tamatan STM jurusan bangunan, namun keinginannya pandai bercocok tanam begitu tinggi sehingga keahliannya dalam membuat meubel ditinggalkannya. Ia lebih memilih bercocok tanam.
"Awalnya saya pengrajin kayu, membuat kursi, bangku, meja dan lemari dari kayu dengan modal Rp300 ribu dan sempat mempekerjakan sebanyak 16 tukang, juga pernah kerja di proyek membuat jembatan, namun keinginan tetap bertani," kata Udin menceritakan tentang pengalaman bekerja sejak masih muda.
Meninggalkan perkerjaan sebagai pengrajin kayu, Udin mencoba bercocok tanam cabe diatas lahan ¾ hektare miliknya sendiri di Desa Pasar Awi, Kampung Cibogo. Enam bulan lamanya ia menanam cabe hasilnya kurang memuaskan, hampir seluruh cabe yang siap panen musnah karena diterpa banjir, sehingga modal yang dimiliki habis.
Udin mencoba kembali berkecimpung di kayu, tetapi lagi-lagi usaha itu kurang disukainya, dan saat ia menganggur selama dua bulan, tersirat dalam benaknya menjadi penjual dan pembeli gabah dan beras pada Tahun 2004.
Usaha jual beli beras cukup menarik bagi Udin, namun bercocok tanam tetap digeluti bahkan ragamnya ditambah tidak hanya cabe, tetapi juga tanam timun dan cesin.
"Saya tetap optimistis bertani akan menghasilkan uang jika dikelola dengan baik, karena selain pengaruh penyakit dan hama, faktor tanah juga berpengaruh, sehingga perlu tahu komposisi campuran bahan yang dibutuhkan untuk tanah bagi sesuatu tanaman," kata Ayah dari empat anak hasil buah perkawinannya dengan  Nurhasanah ini.
Udin Mac walaupun pendidikannya bukan di pertanian, tetapi dengan seringnya ia membaca Majalah Trubus, dan tidak kenal lelahnya melakukan kreatifitas percobaan-percobaan terhadap struktur tanah, maka iapun mampu menghasilkan cabe atau sayuran berkualitas.
"Sebenarnya tidak ada tanah yang jelek, walaupun tanah itu berwarna merah, tetapi kalau kita tahu bahwa tanah itu masih kekurangan pupuk kandang atau  kurang unsur-unsur lainnya, kemudian dicampur dengan unsur-unsur yang dimaksud maka tanaman dapat tumbuh ditanah tersebut," kata anak dari pasangan H Muhamin Ace (alm) dan Hj Icih ini mengisahkan kenapa ia mampu memelihara cabe atau tomat.
Setelah berhasil di pertanian dan jual beli gabah atau beras, Udin berhasrat memiliki tempat penggilingan padi  agar gabah yang dibeli dari petani dapat diolah sendiri menjadi beras.
Dari keuntungan yang diperoleh dari panen cabe dan jual beli gabah, digunakan Udin untuk membangun tempat penggilingan padi  pada Tahun 2009.
Menambah biaya operasional ia memberanikan diri meminjam ke BRI Syariah sebesar Rp50 juta, tetapi hanya digolkan Rp25 juta, yang kemudian hanya bisa digunakan untuk beli gabah.
Cicilan lunas selama satu tahun, Udin  meminjam lagi Rp70 juta, dan BRI Syariah mengabulkannya karena Udin mematuhi perjanjian.  Uang sebesar itu kemudian digunakan untuk membangun tempat penggilingan  padi, sisanya digunakan untuk menanam cabe atau sayuran lainnya.
Dengan luas 1.300 meter persegi, tempat penggilang padi dilengkapi dengan tiga unit tractor dan satu unit pompa, dan mempekerjakan 12 orang yang semuanya pekerja harian yang diupah sesuai dengan jerih payahnya, Udin tidak hanya mengolah gabah petani menjadi beras, tapi juga membelinya untuk kemudian dijual ke Jakarta dan Serang.
Udin pandai memanfaatkan 12 orang pekerjanya. Jika penggilingan padi tidak berjalan karena paceklik, maka  dialihkan untuk membantu usaha tanaman, sehingga tidak ada satu karyawannya yang menganggur.
Udin memiliki sekitar 80 petani binaan. Seluruh petani tersebut diberinya  benih padi secara gratis, dan ia juga menyediakan pupuk  yang bisa dibayar setelah panen.  Udin juga bersedia menampung hasil panen berupa gabah dari 80 petani tersebut.
"Jadi petani di sini tidak kesulitan menjual gabahnya, karena berapapun jumlahnya saya siap membelinya, dan kemudian saya menjual ke pasar setelah menjadi beras," kata Udin dari hasil usahanya tersebut mampu membeli satu unit mobil Xenia dan satu unit mobil vios serta satu unit mobil bak terbuka untuk kegiatan usaha.
Walaupun sudah makmur, Udin yang suka membaca majalah Trubus ini masih bercita-cita ingin mengembangkan usahanya, bahkan berobsesi ingin membuat "Desa Cabe", di tempat ia berusaha.
"Saya ingin membantu masyarakat di sini yang mempunyai tanah tapi tidak bisa mengolahnya, termasuk juga warga yang masih menganggur untuk diajak bertani dengan ramai-ramai menanam cabe," kata Udin Mac.


Jumat, 30 Oktober 2015

ASPEK PEMASARAN DAN PERMODALAN AGRIBISNIS PERTANIAN

Dalam agribisnis pertanian, selain aspek produksi dan aspek permodalan, aspek pemasaran juga perlu mendapatkan perhatian agar tingkat keberhasilan agribisnis lebih tinggi sehingga keuntungan yang diperoleh akan lebih besar. Strategi pemasaran yang tepat akan memperpendek sistem atau mata rantai perdagangan, sehingga lost of benefit atau keuntungan yang hilang akibat panjangnya tataniaga perdagangan bisa dihindari.
ASPEK PEMASARAN AGRIBISNIS PERTANIAN
Pengertian pemasaran jauh lebih luas dari pasar. Di dalam pemasaran tercakup semua kegiatan yang berkaitan dengan usaha memasarkan produk, termasuk juga jalur pemasaran/tata niaganya. Untuk lebih jelasnya akan dibahas mengenai pasar, jalur pemasaran/ tata niaga, dan kegiatan pemasaran.
A. Pasar
Pasar dapat diartikan sebagai suatu organisasi tempat para penjual dan pembeli dapat dengan mudah saling berhubungan. Bagi pengusaha agribisnis pertanian, pasar merupakan tempat melempar hasil produksinya.
Dikenal ada beberapa macam pasar (saluran distribusi) dalam agribisnis pertanian, antara lain pasar langsung atau saluran distribusi langsung, saluran distribusi tidak langsung, dan eksportir.

Saluran distribusi langsung yaitu saluran distribusi yang langsung mengarah pada konsumen, seperti hotel, restauran, rumah sakit dan rumah tangga. Saluran distribusi langsung ini biasanya dilakukan oleh pengusaha agribisnis pertanian dalam skala kecil atau pengusaha agribisnis pertanian yang sudah besar tetapi secara khusus mengadakan kerjasama dengan pihak konsumen dengan kriteria dan kualitas hasil peroduksi yang sudah disepakati. Dalam hal ini misalnya seorang pengusaha agribisnis pertanian mengadakan kerjasama dengan pihak industri pengolahan yang berbasis pertanian.

Saluran distribusi tidak langsung, seperti pasar pasar tradisional, swalayan, pedagang pengecer dan koperasi. Mata rantai atau tata niaga perdagangan dalam saluran distribusi ini sangat beragam. Ada kalanya seorang pelaku agribisnis pertanian yang langsung membawa hasil produksinya ke pasar, tetapi tidak sedikit pula yang karena keterbatasan sarana transportasi, arus informasi, dan komunikasi, hasil produksi agribisnis pertanian harus dikumpulkan oleh pedagang pengumpul.

Saluran distribusi yang terakhir adalah eksportir. Dari eksportir inilah nantinya konsumen luar negeri dapat dijangkau. Untuk melakukan ekspor hasil produksi agribisnis pertanian, biasanya ditetapkan standar mutu yang dikeluarkan oleh negara tujuan terhadap kualitas produk agribisnis pertanian. Dalam melakukan ekspor perlu memperhatikan keadaan dan kebutuhan pasar negara yang akan dituju.

Berbicara mengenai pasar sebaiknya dengan mempertimbangkan jarak antara sentral produksi dengan pasar atau konsumen tujuan. Pertimbangan ini didasarkan pada sifat dari produk agribisnis pertanian yang secara umum bukan merupakan komoditas yang tahan lama. Karena sifat inilah maka pasar relatif tidak boleh terlalu jauh dengan sentral produksi. Kalaupun terpaksa memperoleh pasar yang jauh, maka harus diimbangi dengan kelancaran lancar transportasi dan sistem pengemasan yang aman.
B. Jalur Pemasaran Atau Tataniaga Produk Agribisnis Pertanian
Sebelum sampai ke tangan konsumen, produk usaha agribisnis pertanian ini hampir selalu melalui perantara. Jalan yang dilalui oleh produk agribisnis pertanian tersebut, dengan atau tanpa melalui perantara hingga sampai kepada konsumen dikenal dengan istilah jalur pemasaran atau jalur tata niaga.

Pada umumnya jalur tata niaga ada dua macam yaitu jalur langsung sederhana dan jalur dengan perantara.
1. Jalur tata niaga agribisnis pertanian secara langsung
Di sini produsen langsung berhadapan dengan konsumen. Harga yang dibayar konsumen sama besamya dengan yang diterima produsen. Dengan demikian, dari segi harga, produsen akan mendapatkan harga yang wajar. Di lain pihak konsumen juga merasa untung karena mendapat produk yang lebih segar. Meskipun demikian, jalur tata niaga ini mempunyai beberapa kelemahan seperti lingkup atau kapasitas pasar atau konsumen yang tidak begitu luas, produsen tidak tertarik untuk meningkatkan pendapatan dengan mengolah produk menjadi bentuk lain dan dengan harga yang lebih baik, serta produsen tidak dapat meluaskan jaringan pemasaran karena dengan meluaskan jaringan pemasaran, berarti terlepas dari profesinya sebagai petani atau produsen.
2. Jalur tata niaga agribisnis pertanian dengan perantara
Jalur tata niaga ini melibatkan pedagang perantara sehingga produsen tidak dapat langsung berhubungan dengan konsumen. Yang dimaksud dengan pedagang perantara yaitu pedagang yang memiliki dan menguasai barang serta menyalurkan dengan tujuan mendapat keuntungan.

Macam pedagang perantara yang biasa dijumpai dalam usaha agribisnis pertanian adalah pedagang eceran, pedagang besar, dan pedagang pengumpul. Pedagang eceran merupakan perantara yang menjual barang dagangannya langsung kepada konsumen akhir. Sementar pedagang besar adalah pedagang yang menerima produk agribisnis pertanian dari petani atau pedagang pengumpul dan menyalurkan kepada pedagang kecil atau eceran. Sedangkan pedagang pengumpul merupakan pedagang yang mengumpulkan sejumlah kecil produk dan beberapa produsen dan menjualnya dalam jumlah besar pada langganannya. Pendek kata, semua pedagang yang berfungsi sebagai penyalur dan produsen ke konsumen adalah pedagang perantara.
Banyaknya pedagang perantara membuat mata rantai tata niaga menjadi semakin panjang. Akibatnya tingkat harga yang diterima petani relatif sangat rendah dibanding dengan harga yang harus dibayar oleh konsumen. Untuk mengatasi hal ini, perlu adanya upaya memperpendek jalur tata niaga, disamping upaya peningkatan efisiensi peranan lembaga tata niaga serta perbaikan sarana transportasi.
Secara garis besar produk agrobisnis pertanian dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu produk agribisnis tanaman pangan dan produk agribisnis hortikultura. Produk tanaman pangan diantaranya adalah padi, jagung, sagu, singkong, dan ketela rambat. Sementara produk hortikultur mencakup semua produk sayur dan buah-buahan.
Berikut ini simulasi jalur tata niaga agribisnis pertanian

C. Kegiatan Pemasaran Produk Agribisnis Pertanian
Dalam usaha agribisnis pertanian kegiatan pemasaran berperan sebagai pembuka jalan bagi produk untuk sampai ke pasar. Bila kegiatan ini sampai terhambat, produk akan tersendat-sendat memasuki pasar. Padahal, produk dari usaha agribisnis pertanian mempunyai sifat yang mudah sekali rusak atau tidak tahan lama.
Berkaitan dengan kegiatan pemasaran, yang perlu dilakukan oleh pengusaha agribisnis pertanian adalah memahami tentang studi pemasaran, memperkirakan jumlah produksi, mempersiapkan produk, menentukan harga jual, menentukan distribusi, dan menentukan kebijakkan promosi.
1. Studi Pemasaran Agribisnis Pertanian
Studi pemasaran ini mencakup aspek yang cukup luas, antara lain studi pasar, studi mengenai produk yang dihasilkan, distribusi, konsumen, dan promosi (jika perlu). Studi pemasaran dimaksudkan untuk mencari data-data mengenai permintaan terhadap jenis komoditas agribisnis pertanian pada waktu lalu, sekarang, dan yang akan datang.
2. Memperkirakan Jumlah Produksi Agribisnis Pertanian
Perkiraan jumlah produksi berfungsi untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pemasaran telah sesuai dengan yang direncanakan. Pada umumnya permintaan terhadap produk usaha agribisnis pertanian selalu mengalami pasang surut. Jika tidak diatasi dengan usaha memperkirakan jumlah penjualan maka akan terjadi kelebihan produk yang tidak bisa dilempar ke pasar. Atau, kalaupun bisa memasuki pasar maka harganya akan turun jauh di bawah harga yang di inginkan.
3. Mempersiapkan Produk Agribisnis Pertanian
Pengusaha agribisnis harus benar-benar tahu produk seperti apa kualitas produk yang diinginkan oleh konsumen. Untuk menghasilkan produk yang bisa memenuhi keinginan konsumen, antara lain dapat ditempuh dengan cara:
  1. menetapkan standar kualitas produk agribisnis pertanian,
  2. tidak mengandalkan satu jenis produk atau komoditas agribisnis pertanian,
  3. usahakan menggunakan kemasan spesial sehingga menarik konsumen,
  4. buat inovasi untuk mencoba membuat produk olahan sehingga produk agribisnis pertanian bisa memiliki nilai tambah
4. Menentukan Kebijakan Harga Jual Produk Agribisnis
Harga jual akan sangat menentukan posisi pengusaha dalam persaingan. Harga jual yang ditetapkan harus benar-benar dapat memberikan kepuasan kepada konsumen di samping harus dapat memenuhi pencapaian tujuan perusahaan. Memang pada kenyataannya harga jual komoditi agribisnis pertanian sangat tidak menentu. Hal ini tentu saja akibat dari tidak adanya estimasi produksi yang dilakukan oleh praktisi agribisnis pertanian karena memang daya dukung sumber data untuk melakukan itu sangat tidak mewakili. Akan tetapi, sebagai pelaku agribisnis yang maju, tentu saja segala upaya akan dilakukan untuk membuat analisa pasar terhadap kebutuhan konsumen akan jenis produk agribisnis. Selain itu perkiraan jumlah produksi secara nasional terhadap jenis komoditi agribisnis pertanian juga perlu dilakukan. Dengan melakukan estimasi produksi dan analisa kebutuhan konsumen tersebut, maka paling tidak pelaku usaha agribisnis pertanian sudah berupaya untuk mengantisipasi resiko harga jatuh pada saat panen. Sekalipun tingkat akurasi analisa pasar tersebut masih sangat rendah. Dengan jam terbang yang tinggi, maka tingkat akurasi akan semakin baik.
5. Menentukan Distribusi Produk Agribisnis
Dalam menentukan saluran distribusi produk atau komoditas, pengusaha agribisnis pertanian dapat memilih untuk melakukannya sendiri atau melalui perantara. Ada beberapa alasan pengusaha memilih perantara dalam mendistribusikan produknya antara lain
  1. pertimbangan dana dan personalia penjualan,
  2. efisiensi kerja,
  3. keadaan prasarana daerah pemasaran setempat, dan
  4. pengetahuan dan pengalaman menangani daerah pemasaran setempat.
6. Menentukan Kebijakan Promosi Produk Agribisnis
Promosi merupakan kegiatan memperkenalkan, meyakinkan, dan mengingatkan kembali manfaat dan kualitas produk kepada konsumen. Promosi biasanya dilakukan terhadap jenis komoditi agribisnis baru atau peluncuran varietas baru. Kegiatan promosi harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
  1. jumlah dana yang tersedia untuk promosi,
  2. masa tahapan siklus produksi,
  3. konsumen yang ingin dituju, dan
  4. sifat atau ciri khusus produk yang dihasilkan.
Kebanyakan pengusaha agribisnis pertanian belum begitu memperhatikan masalah promosi, karena rata-rata usahanya belum begitu intensif. Akan tetapi jika kapasitas usahanya sudah semakin besar dan melakukan ekspansi usaha pada kegiatan pengolahan hasil agribisnis pertanian, maka mau tidak mau kegiatan promosi ini harus dilakukan.

Terima Kasih ( http://petanimembangun.blogspot.co.id/)


Rabu, 28 Oktober 2015

CARA MEMBUAT PUPUK BOKASHI


Pupuk bokashi merupakan pupuk kompos yang dibuat dengan cara fermentasi. Bahan baku pupuk bokashi terdiri dari sisa tanaman, kotoran ternak, sampah dapur atau campuran material organik lainnya. Pupuk bokashi dibuat dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme efektif (EM4) sebagai dekomposernya.
Bokashi dipopulerkan pertamakali di Jepang sebagai pupuk organik yang bisa dibuat dengan cepat dan efektif. Terminologi bokashi diambil dari istilah bahasa Jepang yang artinya perubahan secara bertahap. Sedangkan EM4 merupakan jenis mikroorganisme dekomposer untuk membuat pupuk bokashi. EM4 dipopulerkan oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Jepang.
Proses pembuatan pupuk bokashi relatif lebih cepat dari pengomposan konvensional. Bokashi sudah siap dijadikan pupuk dalam tempo 1-14 hari sejak dibuat, tergantung dari bahan baku dan metode yang digunakan. Membuat bokashi sangat mudah, bisa dilakukan dalam skala rumah tangga maupun skala pertanian yang lebih besar. Berikut ini kami jelaskan tahap-tahapnya.
Menyiapkan mikroorganisme dekomposer (EM4)
Hal pertama yang harus dilakukan untuk membuat pupuk bokashi adalah menyiapkan mikroorganisme dekomposernya. Salah satu dekomposer bokashi yang paling populer adalah EM4. Larutan EM4 terdiri dari mikroorganisme yang diisolasi secara khusus untuk menguraikan sampah organik dengan cepat. Mikroorganisme yang terkandung dalam EM4 terdiri dari bakteri fotosintesis, bakteri asam laktat (Lactobacillus sp), Actinomycetes dan ragi.
EM4 dijual dipasaran dalam bentuk cairan kental yang telah dikemas dalam berbagai ukuran. Untuk membuat dekomposer bokashi, kita cukup mengencerkan cairan tersebut dan mencampurkannya dengan bahan baku bokashi. Selain membelinya, kita juga bisa membuat cairan mikroorganisme efektif (EM) sendiri. Berikut langkah-langkahnya:
  • Siapkan bahan-bahan berikut: pepaya dan kulitnya 0,5 kg, pisang dan kulitnya 0,5 kg, nenas dan kulitnya 0,5 kg, kacang panjang segar 0,25 kg, sayuran hijau (kangkung/bayam) 0,25 kg, gula pasir 1kg dan ragi tape 5 butir.
  • Campur pepaya, nenas, pisang, kacang panjang dan sayuran dan lumatkan bahan-bahan tersebut dengan blender.
  • Masukkan bahan-bahan yang telah dilumat kedalam ember yang ada penutupnya. Lalu tambahkan 1 liter air, gula pasir dan ragi tape. Aduk perlahan hingga merata. Kemudian tutup ember dengan rapat, diamkan selama 7 hari.
  • Setelah tujuh hari akan terbentuk cairan berwarna coklat gelap. Saring cairan tersebut, air hasil saringan merupakan larutan efektif mikroorganisme (EM) yang bisa dijadikan dekomposer pupuk bokashi. Simpan cairan dalam wadah/botol. Larutan EM bisa dipakai hingga 6 bulan, sedangkan ampasnya bisa digunakan sebagai kompos.
Membuat pupuk bokashi skala pertanian (1 ton)
Pupuk bokashi bisa dibuat dari hijauan sisa panen dan limbah peternakan. Waktu yang diperlukan untuk membuat bokashi skala besar dan skala kecil sama saja, yang membedakannya adalah volume bahan bakunya. Berikut tahapan membuat bokashi untuk penggunaan pertanian:
  • Siapkan bahan-bahan berikut: 200 kg jerami atau sisa hijauan, 600 kg kotoran ternak yang telah kering, 50 kg serbuk gergaji/dedak, 50 kg arang sekam, 100 kg humus (top soil, berasal dari tanah hutan lebih baik), 1 liter larutan dekomposer (EM4) dan 1 kg gula pasir.
  • Pilih tempat fermentasi yang terlindung dari air hujan dan sengatan matahari langsung. Buat lubang berbentuk persegi panjang di atas tanah tersebut dengan lebar 1 meter, panjang 2 meter dan dalam 30-50 cm, atau sesuaikan ukuran lubang dengan banyaknya bahan baku.
  • Cacah jerami atau hijauan kecil-kecil, campuran bahan-bahan organik yang telah disiapkan, aduk hingga merata dengan cangkul atau sekop. Bila perlu (misalnya tanah Anda asam), tambahkan abu (Mg) dan kapur pertanian (Ca) untuk memperkaya kandungan hara pupuk bokashi yang dihasilkan.
  • Encerkan larutan EM4, ambil 1 liter larutan campurkan dengan 200 liter air bersih dan 1 kg gula pasir. Kemudian siramkan pada campuran bahan baku sambil diaduk. Atur kelembaban hingga mencapai 30-40%. Untuk memperkirakan tingkat kelembaban, kepalkan campuran hingga bisa menggumpal tapi tidak sampai mengeluarkan air. Apabila kelembabannya kurang, tambahkan air secukupnya.
  • Tutup rapat lubang fermentasi dengan plastik atau terpal, diamkan hingga 7-14 hari. Perlu diingat, kontrol suhu fermentasi hingga maksimal 45oC. Apabila melebihi suhu tersebut, aduk dengan cangkul agar suhunya turun.
  • Setelah 14 hari, biasanya pupuk bokashi sudah terbentuk dan bisa diaplikasikan langsung.
Membuat pupuk bokashi skala rumah tangga
Pupuk bokashi bisa dibuat dalam skala rumah tangga dengan memanfaatkan limbah dapur atau sisa makanan. Bokashi dari hasil daur ulang sampah bisa digunakan untuk memupuk tanaman pekarangan. Penggunaannya sama dengan penggunaan pupuk organik yang dijual dipasaran. Berikut tahapan membuatnya:
  • Siapkan bahan-bahan berikut: sisa sayuran, buah-buahan, sisa makanan (nasi, roti, dll), tulang ikan, tulang ayam, 5 kg dedak/serbuk gergaji, 5 kg arang sekam, 10 ml EM4 dan dua sendok gula pasir.
  • Siapkan satu tong plastik ukuran 200 liter. Buat lubang bagian bawahnya untuk mengeluarkan cairan hasil pengomposan. Cairan ini berguna sebagai pupuk organik cair.
  • Potong atau rajang material organik menjadi potongan kecil, campurkan dengan dedak/serbuk gergaji dan arang sekam.
  • Encerkan 10 ml larutan EM4 dengan 1 liter air, tambahkan dua sendok gula pasir. Kemudian siramkan pada campuran bahan baku tadi.
  • Tutup rapat tong plastik, apabila suhu melebihi 45oC. Abila warna dan teksturnya sudah seperti tanah, itu tandanya pupuk bokashi sudah terbentuk. Prosesnya kira-kira 5-7 hari.