Tampilkan postingan dengan label Budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 Januari 2016
Senin, Januari 04, 2016 by UnknownNo comments
Ketika tahun 1997 wabah pseudomonas dan fusarium melanda
kebun pisang rakyat maupun perkebunan besar di Indonesia, tetap ada tanaman
pisang yang selamat. Pertama, yang bisa selamat dari amukan penyakit tersebut
adalah jenis pisang "bandel" seperti mas, muli, dan lilin. Tetapi
pisang-pisang yang sangat rentan penyakit seperti kepok kuning, ambon kuning,
raja sereh, raja bulu dan tanduk pun, tetap ada yang selamat. Pisang-pisang
tersebut selalu berada di kebun atau pekarangan rumah penduduk dengan tanaman yang
campuraduk. Berbagai jenis pisang ada di sana, berbagai jenis tanaman juga
tegak di kebun itu. Mulai dari tanaman semusim seperti kunyit dan keladi sampai
ke tenaman keras seperti bambu, petai dan kelapa. Tempat tumbuh tanaman pisang
yang selamat dari amukan penyakit itu selalu sangat subur dan kaya bahan
organik. Pada musim kemarau panjang, kelembapan udara serta tanah juga masih
tetap terjada dengan baik.
Sebaliknya, areal perkebunan pisang yang hancur oleh
penyakit adalah tanaman monokultur, bahkan mono varietas. Artinya, kebun pisang
dengan satuan hamparan luas itu hanya ditanami pisang dan hanya terdiri dari
satu jenis. Contoh paling ekstrim adalah kebun pisang cavendish. Meskipun kebun
ini sudah dilengkapi dengan parit drainase selebar 1 m. dengan kedalaman 1,5 m,
diberi pengairan dengan teknik sprinkle, diberi pupuk dan rutun disemprot
pestisida, namun tetap saja habis terkena penyakit. Kebun PT Nusantara Tropical
Fruits seluas 2.000 hektar di Lampung, tinggal ratusan hektar yang selamat.
Kebun PT Global Agronusa Indonesia seluas 3.000 hektar di Halmahera, Maluku,
malahan hancur total oleh penyakit ini. Tanaman pisang rakyat dengan
jenis-jenis komersial seperti ambon kuning, barangan dll. juga hancur terkena
penyakit tadi. Seorang mantan bupati di Sumsel yang mencoba mengembangkan
pisang barangan monokultur juga mengalami nasib demikian.
Gagalnya pengembangan kebun-kebun cavendish di Indonesia,
terutama disebabkan oleh lokasinya yang sangat berdekatan dengan katulistiwa.
Filipina meskipun sama-sama negara tropis, letaknya sudah di atas 10° lintang
utara. Lampung masih di bawah 5° dan Halmahera justru menempel di katulistiwa.
Pengembangan cavendish di Jatim, tepatnya di Kab. Mojokerto, bisa lebih baik
dari di Lampung, karena Mojokerto letaknya sekitar 7,5° lintang selatan.
Pengembangan cavendish secara monokultur dan mono varietas di Australia dan
Filipina relatif berhasil karena tingkat kelembapan udara di dua kawasan tadi
sudah relatif rendah didanding dengan kelembapan rata-rata di Indonesia. Demikian
pula halnya dengan Kostarika yang dikenal sebagai negeri pisang, letaknya
persis pada 10° lintang utara. Ini semua membuat pengembangan pisang secara
monokultur dan mono varietas menjadi dimungkinkan. Problematik mereka justru
hanya masalah pengairan.
Selain jenis cavendish dan barangan, di Indonesia belum
pernah ada kebun pisang komersial yang dikelola secara serius. Yang disebut
sebagai pisang komersial adalah, 1) ambon kuning, 2) kepok kuning, 3) raja
sereh (susu), 4) raja bulu, 5) tanduk, 6) mas. Selain jenis-jenis tersebut,
masih ada pula pisang-pisang yang tetap laku dijual, tetapi nilai ekonomisnya
tidak tinggi. Misalnya pisang nangka, kapas, muli, lilin (janten) dll. Disebut
sebagai ambon kuning, sekadar untuk membedakannya dengan ambon lumut dan ambon
putih. Di beberapa tempat, misalnya di Bandung, ambon lumur justru sangat
digemari konsumen. Tetapi pada umumnya, ambon kuning tetap lebih memiliki
potensi pasar. Ambon putih sulit sekali dipasarkan. Demikian pula halnya dengan
kepok putih yang hanya lazim dimanfaatkan sebagai pakan burung. Yang
dimaksudkan dengan ambon putih serta kepok putih adalah, warna daging buahnya.
Sementara warna kulitnya tetap kuning. Beda dengan ambon lumut yang warna kulit
buahnya memang akan tetap hijau meskipun telah masak.
Raja bulu yang memiliki nilai komersial baik adalah raja
bulu merah. Yakni raja bulu yang daging buahnya kuning oranye kemerah-merahan.
Selain itu masih ada pula raja bulu dengan daging buah putih yang kurang
disukai konsumen. Raja sereh atau pisang susu malahan ada 3 macam. Pertama yang
berukuran besar, tetapi rasanya sedikit masam. Kedua yang berukuran lebih kecil
tetapi rasanya sangat manis dengan daging buah yang lebih kering (kesat). Dua
jenis pisang raja sereh ini kulit buahnya akan berwarna kuning kecokelatan
dengan bintik-bintik cokelat tua. Bintik-bintik pada pisang raja sereh ini
bukannya disebabkan oleh luka tusukan hama trips, melainkan oleh bintik gula
(sugar spot). Hingga masyarakat yang selalu mengatakan bahwa raja sereh yang
manis adalah yang kulitnya cokelat kehitaman memang benar. Karena masih ada
satu lagi jenis raja sereh yang warna kulit buahnya justru kuning muda mulus
namun rasanya sangat sepat serta masam. Pisang tanduk pun ada dua macam.
Pertama yang berdaging muah kemerahan. Di Kab. Lumajang, Jatim, pisang demikian
disebut sebagai pisang agung. Selain itu masih ada lagi pisang tanduk dengan
daging buah putih.
Alam, tampaknya memang telah mengatur bahwa pisang-pisang
yang enak dengan kualitas baik tadi justru sangat rentan terhadap serangan hama
serta penyakit. Pisang-pisang jelek yang nilai komersialnya rendah justru
sangat tahan penyakit. Pisang mas, lilin dan muli misalnya, sama sekali tidak
mempan terserang fusarium dan pseudomonas. Dari enam pisang komersial tadi, ada
yang umurnya genjah, yakni 6 bulan dari sejak tanam (benih anakan tinggi 1m.);
sudah akan berbuah. Pisang raja sereh sekitar 7 sampai 8 bulan. Ambon dan raja
bulu antara 8 bulan sampai dengan 10 bulan. Kepok kuning dan tanduk perlu waktu
sampai 18 bilan (1,5 tahun) untuk berbuah. Harga paling tinggi adalah tanduk
yakni sampai Rp 1.800,- per kg. di tingkat petani. Disusul dengan raja
bulu Rp 1.500,- kg. kemudian ambon kuning Rp 1.200,- per kg. raja sereh /
kepok kuning Rp 1.000,- per kg. dan mas Rp 800,- per kg. Meskipun tanduk
dan raja bulu menduduki ranking harga tertinggi, namun pangsa pasarnya sangat
kecil. Sebab pisang tanduk termasuk jenis olahan (bukan pisang meja) sementara
raja bulu jenis dwi guna. Yang memiliki pangsa pasar terbesar tetap pisang
mabon kuning, karena penggunaannya untuk pisang meja.
Itu semua untuk pasar dalam negeri. Untuk pasar ekspor lain
lagi. Ambon kuning tidak mungkin diekspor karena dua alasan. Pertama,
masrarakat internasional akan menganggapnya sebagai cavendish. Kedua, beda dengan
cavendish yang tangkai buah serta kulitnya kuat, ambon kuning sangat lemah.
Yang memiliki tangkai buah serta kulit kuat hanyalah raja bulu dan kepok
kuning. Karenanya, kalau pengembangan kebun pisang komersial berorientasi pasar
dalam negeri, maka konsentrasinya harus ke ambon kuning. kalau tujuannya untuk
ekspor, maka jenisnya raja bulu dan kepok kuning. Hingga rumusan untuk kebun
dengan orientasi pasar dalam negeri adalah, ambon kuning 50%, raja sereh 20%,
raja bulu 10% tanduk, kepok kuning dan mas 20%. Kalau tujuannya untuk ekspor
maka komposisinya raja bulu 40%, kepok kuning 30%, tanduk 10% dan ambon kuning,
mas serta raja sereh 20%. Komposisi itu bisa digabung. Misalnya, ambon kuning
30%, raja bulu 30%, kepok kuning, tanduk, raja sereh dan mas masing-masing 10%.
Orientasinya pasar dalam negeri dan ekspor.
Populasi ideal tanaman pisang ambon kuning atau raja bulu
per hektar adalah 1.500 tanaman. Dengan jarak tanam 2 X 3 meter. Namun dalam
pelaksanaan penanaman jarak tanam itu dibuat 2 m. (membujur) X 3,5 X 2,5 X 3,5
m. dst. (melintang). Pada jarak 2,5 m. dibuat parit drainase selebar 0,5
m. dengan kedalaman 0,7 m. Sementara jarak 3,5 m. akan digunakan untuk
kendaraan (pick up) atau traktor yang akan membawa pupuk kandang serta hasil
panen. Jarak tanam yang 2 m. tersebut, dalam budidaya sistem multi varietas
harus domodifikasi sesuai dengan verietas yang ditanam. Misalnya, pada ambon
dan raja bulu, jarak itu tetap 2 m. Tetapi pada kepok kuning dan
tanduk, diperlebar menjadi 2,5 m. Pada raja sereh dan mas, justru
diperpendek menjadi 1,5 meter. Populasi total per hektar tetap sekitar 1.500
tanaman. Di kalangan petani, biaya tanam pisang ambon kuning atau raja bulu, Rp
5.000,- per tanaman sampai dengan berbuah pertama. Pera petani tidak pernah
memberi pupuk maupun pestisida, tenaga kerja untuk kontrol juga tidak dihitung.
Jadi Rp 5.000,- tersebut hanyalah biaya benih, tanam dan panen.
Pada budidaya komersial, biaya tersebut harus ditambah Rp
5.000,- untuk pupuk dan pestisida pada tahun I. Pada tahun II dst, biaya pupuk
dan pestisida akan meningkat menjadi 3 X lipat, karena tiap rumpun pisang akan
bisa dipanen sebanyak 3 kali. Kemudian masih ada biaya Rp 6.000,- untuk upah
tenaga harian. Perhitungan upah harian adalah, tiap hektar bisa dikerjakan oleh
2 orang dengan UMR Rp 12.000,- berarti tiap 0,5 lahan akan ditangani oleh 1
tenaga kerja dengan upah per tahun Rp 12.000,- X 365 (hari) : 750 (populasi
pisang per 0,5 hektar) = Rp 5.840,- yang dibulatkan menjadi Rp 6.000,- Dalam
perkebunan pisang skala komersial diperlukan pengairan intensif. Pengadaan air
dengan biaya tertinggi adalah apabila harus mengambil air tanah dengan sumur
dalam. Biaya pengeboran berikut pompa, survei, ijin, instalasi dan penampungan
sekitar Rp 200.000.000,- yang bisa mengkover areal 10 hektar. Biaya investasi
ini harus disusutkan paling sedikit untuk jangka waktu 5 tahun. Plus biaya
investasi lainnya berikut benab manajemen, total biaya pembukaan kebun pisang
skala komersial menjadi Rp 50.000.000,- per hektar.
Biaya per hektar Rp 50.000.000,- tersebut untuk skala
minimal 10 hektar. Kalau kebun yang akan dibuka hanya 5 hektar atau malahan
hanya 2 hektar, maka biaya per hektarnya akan jatuh lebih tinggi lagi.
Sebaliknya apabila kita akan membuka sampai 50 hektar, maka biayanya akan menurun,
meskipun angka nominal penurunannya tidak terlalu besar. Hasil pisang 1.500
tandan, dihitung rata-rata 6 sisir per tandan dengan berat per sisir 2,5 kg dan
dengan harga rata-rata Rp 1.200,- Hingga pendapatan per tanaman adalah Rp
Rp 1.200,- X 2.5 X = Rp 18.000,- Hasil per hektarnya dikalikan 1.500,- menjadi
Rp 36.000.000,- Pada tahun II dst. hasil ini akan meningkat menjadi 3 X lipat
yakni Rp 108.000.000,- tetapi biaya pupuk dan pestisida juga akan naik menjadi
Rp 15.000,- X 1.500 per hektar atau Rp 22.500.000,- Secara ringkas, dengan
skala minimal 10 hektar, dengan biaya Rp 500.000.000,- suku bunga 20% dan grace
period 1 tahun, maka dalam waktu 4 tahun pinjaman untuk budidaya pisang ini
sudah bisa dilunasi. Jadi sebenarnya peluang tersebut masih cukup baik. (R) ***
Jumat, 13 November 2015
Jumat, November 13, 2015 by UnknownNo comments
Persyaratan Tumbuh Jambu kristal (Crystal) merupakan mutasi dari jambu Muangthai Pak, ditemukan pada tahun 1991 di District Kao Shiung – Taiwan dan diperkenalkan di Indonesia oleh Misi Teknik Taiwan. Jambu kristal memiliki beberapa keistimewaan antara lain berbuah sepanjang tahun, memiliki jumlah biji kurang dari 3% bagian buah, lapisan lilin yang tebal, bobot buah optimum 500 g/buah, dan tekstur buah yang renyah. Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam pemilihan/penetapan lokasi pertanaman jambu kristal adalah sebagai berikut :
Iklim
Tanaman jambu kristal dapat tumbuh di daerah dengan intensitas curah hujan antara 2.000 – 3.000 mm/tahun dan dapat tumbuh, berkembang dan berbuah dengan optimal pada suhu sekitar 20o – 30oC di siang hari.
Tanaman jambu kristal dapat tumbuh di daerah dengan intensitas curah hujan antara 2.000 – 3.000 mm/tahun dan dapat tumbuh, berkembang dan berbuah dengan optimal pada suhu sekitar 20o – 30oC di siang hari.
Media Tanam
Tanaman jambu kristal dapat tumbuh baik pada lahan yang subur dan gembur dengan derajat keasaman tanah (pH), yaitu antara 6 – 6,5 serta berdrainase baik.
Tanaman jambu kristal dapat tumbuh baik pada lahan yang subur dan gembur dengan derajat keasaman tanah (pH), yaitu antara 6 – 6,5 serta berdrainase baik.
Ketinggian Tempat
Tanaman jambu kristal dapat tumbuh baik pada ketinggian antara 5 – 1.000 m dpl 1.2. Sentra PengembanganSentra pengembangan jambu Kristal ada di Bengkulu (Bengkulu Utara), Jawa Barat (Depok, Majalengka, Bogor, Kuningan, Subang, Sukabumi, Sumedang), DI. Yogyakarta (Gunung Kidul), Papua (Kota Jayapura), dan Papua Barat (Manokwari).
Tanaman jambu kristal dapat tumbuh baik pada ketinggian antara 5 – 1.000 m dpl 1.2. Sentra PengembanganSentra pengembangan jambu Kristal ada di Bengkulu (Bengkulu Utara), Jawa Barat (Depok, Majalengka, Bogor, Kuningan, Subang, Sukabumi, Sumedang), DI. Yogyakarta (Gunung Kidul), Papua (Kota Jayapura), dan Papua Barat (Manokwari).
(Sumber : ePetani, Penulis : Dodi Kurniawan (Dit. Budidaya dan Pascapanen Hortikultura)
Rabu, 11 November 2015
Rabu, November 11, 2015 by UnknownNo comments
Potensi
bisnis jahe merah semakin mendapatkan tempat di mata konsumen. Meski khasiat
jahe sudah dikenal sejak bertahun-tahun yang lalu, trend produksi obat herbal
turut memberikan andil populernya olahan dari jahe. seperti yang sudah banyak
diketahui olahan jahe mampu memberikan efek yang baik bagi tubuh manusia
diantaranya menambah stamina dan vitalitas tubuh. Salah satu jenis jahe yang
sering dibudidayakan adalah jahe merah atau yang disebut dengan Jahe Sunti.
Ciri dari Jahe ini adalah rimpangnya kecil,warnanya kuning kemerahan, seratnya
kasar, rasanya sangat pedas dan aroma yang sangat tajam.
Untuk
menghasilkan produksi Jahe Merah yang baik diperlukan tanah yang banyak
mengandung bahan organik atau humus dan drainase yang baik. Jahe merah sangat
cocok ditanam pada daerah yang beriklim sejuk dengan ketinggian 500-100 m dpl.
Meski demikian sebenarnya Jahe Merah bisa juga tumbuh dan berkembang pada
dataran rendah.
Cara
Menanam Jahe Merah
Pada
umunya Tanaman jahe diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan rimpang.
Sebelum Jahe Merah ditanam terlebih dulu disiapkan lahan dengan membuat
bedengan pada lahan yang dibentuk dengan lebar 80 – 100 cm dan panjang
disesuaikan dengan kondisi lahan, jarak antar bedengan 40 – 50 cm. Pada
bedengan dibuat alur sedalam 10 – 15 cm sebagai lubang tanam kemudian bibit
ditanam sedalam 3 – 5 cm dengan tunas menghadap ke atas. Setelah tanam dapat
diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun pisang terutama pada daerah-daerah yang
penyinarannya cukup tinggi.
Setelah
tanaman Jahe merah ditanam, taham selanjutnya adalah tahap pemeliharaan.
Pemeliharaan meliputi penyulaman untuk mengganti tanaman jahe yang tidak tumbuh
atau perkembangannya kurang baik. Langkah lain adalah penyiangan tanaman jahe
merah,agar tidak terganggu oleh gulma. Penyiangan sangat penting dilakukan pada
3 bulan pertama.
Pada usia satu bulan setelah tanam, pemupukan
jahe merah perlu dilakukan dengan pupuk urea dan KCL. Jumlah pemupukan urea 400
kg/ha dan KCL 300 kg/ha. Pada saat usia jahe merah 3 bulan dilakukan pemupukan
kembali dengan urea 400 kg/ha.
Panen
Jahe Merah
Tanaman
jahe umumnya dipanen tua setelah berumur 8 – 10 bulan saat kadar oleoresin
optimum ditandai dengan rasa pedas dan bau harum. Khusus untuk jahe gajah
bisanya dipanen disesuaikan dengan tujuan pemanfaatannya. Kemampuan produksi
budidaya jahe jahe merah dan jahe emprit adalah 10 – 15 ton / ha.
Senin, 09 November 2015
Senin, November 09, 2015 by UnknownNo comments
Kelengkeng adalah salah satu komoditas tanaman buah
yang pada dasarnya telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia..
Kelengkeng yang dahulu hanya dapat dibudidayakan di dataran tinggi dengan terciptanya varietas-varietas kelengkeng baru kini kelengkeng dapat dibudidayakan di dataran rendah dengan pola budidaya yang baik dan benar...
Untuk pada kesempatan kali ini kami mencoba berbagi cara budidaya kelengkeng
1. Persiapan Lahan
Lahan yang akan ditanami oleh kelengkeng dibersihkan dahulu. dibebaskan dari tanaman keras yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman kelengkeng akibat perebutan unsur hara dan sinar matahari
2. Pembuatan lubang tanam
Lubang tanam kelengkeng dibuat sedalam 70x70x70 cm untuk tanah gembur dan 100x100x100 cm untuk tanah keras. dengan jarak tanam 7x7m tanah galian lubang diletakkan di samping kiri dan kanan lubang dan dipisahkan antara lapisan tanah atas dan tanah bawah. agar lebih mudah dalam pencampuran pupuk dasar
3. Pengaplikasian pupuk dasar
Lubang yang telah dibuat tadi dibiarkan 1 minggu hal ini dilakukan untuk menurunkan derajat keasaman tanah dan membunuh bakteri patogen. setelah lubang dibiarkan terbuka selama 1 minggu campurkan 25 kg pupuk kompos, 2 kg pupuk npk, dan 2 kg kapur dolomit dengan tanah galian kemudaian masukkan tanah yang telah dicampur tadi. lapisan tanah atas di kembalikan ke dasar lubang tanam dan lapisan tanah bawah dimasukkan kemudian, biarkan sekitar 2-3 hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan bakteri tanah unatuk melakukan dekomposisi pupuk.
4. Persiapan Bibit Tanaman
Pilih bibit tanaman yang sehat dan memiliki cabang yang kompak. pilih bibit yang berusia 1-1,5 tahun dan bebas dari penyakit. sebelum proses penanaman dilakukan proses karantina selama 1 minggu hal ini dilakukan untuk adaptasi tanaman dengan agroklimaks setempat. selama proses karantina tanaman cukup disisram 1 hari 2 kali
5. Penanaman
Setelah 2-3 minggu lubang tanam dibiarkan melakukan proses dekomposisi barulah tanaman kelengkeng ditanam dengan membuat koakan di titik tanam. usahakan dalam menanam bibit tanaman okulasi mata okulasi menghadap ke timur dan berjarak 15 cm dari permukaan tanah. hal ini bertujuan untuk menghindari timbulnya jamur pada mata okulasi. penanaman harus sedikit ditinggikan agar air tidak menggenang.
6. Pembuatan petak personal
Petak personal dibuat seluas 2x2 m petak personal tanaman dibuat sebagai drainase dan area bebas gulma serta area penahan konsentrasi pupuk yang akan diaplikasikan, jaga agar petak personal bersih dan bebas dari gulma
7. Pemupukan
Pemupukan dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan dosis 2sendok makan npk dan 2sendok makan instan green
8. Pengendalian hama penyakit
Untuk pengendalian hama penyakit sebagai usaha preventif dilakukan 1 bulan sekali dengan pestisida dan fungisida dengan dosis 10ml per tangki sprayer pemberian perekat dengan sedikit menambahkan detergen cair. aplikasi pada pagi hari dan sore hari hindari aplikasi pada siang hari dan pada saat matahari terik
Pengamatan rutin dilakukan agar mengetahui hama dan penyakit yang menyerang. Pada saat pengobatan pengaplikasian dilakukan 1 minggu sekali sampai tanaman sehat kembali
9. Pemberiaan Booster
Pemberian booster dilakukan untuk memacu tanaman kelengkeng berbuah pengaplikasian booster dilakukan pada usia tanaman 1 tahun dari penanaman dengan dosis 250ml per tanaman dengan cara dikocorkan ketanaman. umumnya tanaman akan berbuah setelah 6 bulan dihitung dari tanggal pengaplikasian. pemberian booster dilakukan setiap 9 bulan sekali dan tiap pengaplikasian dosis booster dinaikan 2 kali lipat
10. Perawatan bunga dan buah
6 bulan setelah pengaplikasian booster biasanya tanaman akan memasuki fase inisiasi bunga dilakukan perawatan dengan menyemprotkan pestisida,fungisida setengah dosis dan 1 sendok makan larutan instan blue buah/gandasil buah pengaplikasian dilakukan 2 kali yaitu pada saat fase tanaman berbunga dan ketika bunga sudah menjadi buah. pada penyemprotan ke 2 sekaligus dengan memasang jaring-jaring pada setiap gerombolan buah.
11. Panen dan Pasca Panen.
Panen terjadi pada usia 3-4 bulan terhitung dari fase tanaman berbunga. pemanenan dilakukan dengan memangkas pucuk dahan dengan gunting panen usahakan agar pemotongan rapi untuk memperbanyak tunas yang tumbuh dan menghindari munculnya jamur dan bakteri pada bekas pemotongan
Sabtu, 07 November 2015
Sabtu, November 07, 2015 by UnknownNo comments
Budidaya Cabe Rawit
Cabe rawit dapat ditanam di lahan mana saja seperti lahan sawah, tegalan, dan tempat yang terlindungi oleh pepohonan sekalipun asalkan pesyaratan tumbuhnya terpenuhi. Penulis memang tidak membudidayakan secara besar-besaran seperti halnya petani sayuran lain yang membudidayakan cabe biasa, melainkan “hanya” menggunakan lahan produktif yang ada yaitu sekitar 1000 populasi (batang) saja. Populasi ini lebih sedikit dibandingkan beberapa waktu lalu yang hingga mencapai 4000 populasi. Meskipun hanya berkisar 1000 batang, penggunaan mulsa plastik hitam perak (HP) merupakan sesuatu yang penting. Sebagai perbandingan, untuk populasi 4000 batang, kami menggunakan kurang lebih 40 Kg mulsa plastik ukuran standar.
Pilih Benih
Budidaya Cabe Rawit diawali dengan pemilihan benih. Pemilihan benih merupakan langkah awal yang sangat penting. Karena bila kita memilihi benih yang tidak baik, tentu saja hasilnya pun tidak baik pula. Bibit atau benih cabe harus sudah tersedia terlebih dahulu sebelum kita mulai mengerjakan lahan. Benih cabe rawit dapat diperoleh dari toko pertanian setempat baik berupa varietas lokal, OP maupun hibrida. Pemilihan benih lokal, OP maupun hibrida tergantung pada petani itu sendiri. Namun akan lebih bagus dan lebih prima hasilnya bila kita menggunakan benih hibrida atau OP yang unggul yang ada dipasaran. Mengapa? Pengalaman telah menunjukkan bahwa hasil produksi benih hibrida atau veritas OP yang unggul jauh lebih baik dibandingkan varietas lokal. Tidak hanya dari hasil saja, keunggulan cabe rawit unggul dan hibrida dapat dilihat dari vigor, kesaragaman tanaman serta ketahanannya terhadap penyakit yang menunjukkan hasil yang lebih baik. Untuk jenis OP, kita dapat memilih benih cabe rawit seperti varietas Cakra Hijau atau juga Cakra Putih. Khusus untuk Cakra Hijau, dari pengalaman yang pernah kami dapat menun-jukkan bahwa cabe rawit ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun tinggi, lebih tahan dari gangguan hama dan penyakit, serta dapat dipanen pada umur 80 – 90 hari setelah tanam. Pertimbangan pemilihan varietas Cakra Hijau juga dipengaruhi oleh cukup banyaknya peminat cabe rawit ini baik dari propinsi Riau maupun negara tetangga karena pedasnya yang luar biasa. Saat ini harga jual cabe rawit tersebut (Bulan Januari 2003-red) mencapai Rp. 15.000,-/Kg. Bahkan bisa lebih dari itu.
Persemaian
Benih cabe yang kita pilih disemaikan seperti halnya cabe besar. Kami melakukan penyemaian dengan menaburkan benih-benih tersebut di atas tanah yang telah dibuat bedengan dengan rapi, dan berderet. Untuk pembibitan digunakan bumbungan yang dibuat dari kertas pembungkus nasi. Karena masa tumbuh cabe rawit lebih lama dari cabe merah biasa, maka sebelum benih ditabur benih sebaiknya direndam terlebih dahulu kira-kira satu hingga dua hari untuk kemudian diperam (dikecambahkan) dengan membungkusnya dengan kain yanag sudah dibasahi dengan air.
Setelah tumbuh radikula (calon akar), barulah benih ditaburkan ke lahan yang telah disiapkan sebelumnya. Agar bibit cabe tidak berhimpitan yang diakibatkan daunnya yang melebar, maka saat penebaran disarankan tidak berdekatan antara benih yang satu dengan yang lain. Untuk itulah penggunaan polybag baik dari plastik, daun pisang maupun yang lainnya sangat dianjurkan. Setelah benih berumur kurang lebih satu hingga satu setengah bulan, yang dicirikan dengan munculnya 4 daun sempurna tanaman cabe, bibit kemudian dipindahtanamkan ke lahan penanaman.
Penanaman
Jarak tanam antara tanaman sebaiknya digunakan 60 – 70 cm dengan jarak antar bedengan 75 cm. Penggunaan jarak yang terlalu rapat akan menyebabkan pertumbuhan tanaman cabe satu sama lain akan berhimpitan, apalagi tanaman cabe rawit memiliki struktur kanopi yang lebih lebar. Tanaman cabe rawit tidak perlu dilakukan perempelan (pembuangan tunas-tunas). Hal ini karena tunas tersebut akan menjadi calon ranting maupun cabang, Semakin banyak cabang atau rantingnya maka semakin baik, karena batang/cabang merupakan tempat tumbuhnya bunga dan buah sehingga semakin banyak pula buah cabai yang akan kita peroleh.
Pemupukan
Peranan pupuk kandang sangat dominan dalam budidaya cabe rawit ini. Pupuk kandang dapat menggunakan kotoran ayam ras.buras, itik, sapi, atau kerbau. Pupuk kandang yang kami gunakan kotoran ayam yang sudah kering adalah sekitar 500 – 700 gram /tanaman. Jadi, untuk populasi 1000 tanaman, menghabiskan pupuk kandang kurang lebih 500 – 700 Kg. Selain menggunakan pupuk organik, pemberian pupuk buatan sangat perlu untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Adapun pupuk buatan yang digunakan pada budidaya cabe rawit adalah urea dengan pupuk NPK Grand-S 15 perbandingan 2 : 1. Dosis pupuk yang digunakan kurang lebih 75 – 80 gram per tanaman. Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar yang ditaburkan di bagian kiri dan kanan bedengan. Sedangkan pupuk buatan ditaburkan di bagian tengah bedengan. Setelah penebaran pupuk selesai, bedengan kemudian ditimbun kembali dengan tanah yang diambil dari bagian samping bedengan hingga tertutup dengan ketebalan 2 – 3 cm. Sebagai pengganti Grand - S 15 , dapat juga digunakan pupuk tanigro ditambah Grand-K. Bedengan yang telah ditaburi pupuk kemudain ditutup dengan mulsa HP, dibiarkan kira-kira dua hingga tiga hari untuk kemudian bibit cabai ditempatkan pada setiap lubang tanam yang sudah dibuat sebelumnya. Pertumbuhan cabe rawit akan tampak baik penampilan maupun vigornya pada umur 10 – 15 hst terlebih bila menggunakan bumbungan saat pembibitan.
Hama dan penyakit yang seringkali menyerang cabe rawit adalah ulat daun, kutu daun serta penyakit bercak daun. Pengendalian HPT pada tanaman cabe rawit relatif lebih ringan dibandingkan cabe besar. Untuk mengendalikan serangan ulat, dapat digunakan insektisida biologis seperti Turex WP, sedangkan untuk mengendalikan kutu daun dan thrips dapat digunakan insektisida Winder 25WP atau Winder 100EC. Sedangkan pengedalian penyakit seperti bercak daun dapat dikendalikan dengan Kocide 54WDG atau Victory 80WP. Pemakaian pestisida tersebut dapat dicampur sesuai dosis anjuran yang ada.
Setelah tanaman berumur kira-kira 80 – 90 hari, buah cabe sudah dapat dipetik. Karena varietas cakra hijau ini buahnya kecil dengan warna hijau yang mirip daun, maka pemanenan harus ekstra hati-hati sehingga jangan sampai ada yang luput dari pemetikan (pemanenan). Berdasarkan pengalaman, cabe rawit dapat dipanen minimal 15 kali bahkan bisa sampai 18 kali. Tergantung situasi dan kondisi tanah, vareitas serta lingkungan yang menunjang. Penggunaan ulang pupuk yang sama dengan dosis setengahnya dari dosis awal ditenggarai dapat memperpanjang masa panen cabe rawit 2 – 3 kali lagi.
.
Kamis, 05 November 2015
Kamis, November 05, 2015 by UnknownNo comments
Teknik dan
Cara Mudah
Teknik dan Cara Mudah Budidaya Buah
Naga yang Menguntungkan
Melihat bentuk buah naga yang unik, dan punya rasa manis yang khas
sepertinya menarik sekali. Bagaimana jika mencoba untuk budidaya buah naga…?
kali ini kita akan berbagi mengenai teknik serta cara budidaya tanaman buah
naga. Selamat menyimak.
Pengawasan dan Persiapan Lahan buah Naga
Siapkan terlebih dahulu tiang penopang untuk tegakan tanaman, karena
tanaman ini tak memiliki batang primer yang kuat. Bisa kita gunakan tiang dari
kayu atau beton dengan ukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 meter, yang
ditancapkan ke tanah sedalam 50 cm. Ujung bagian atas dari tiang penyangga
tersebut diberi besi yang berbentuk lingkaran untuk penopang dari cabang tanaman.
Sebulan sebelum tanam, terlebih dahulu dibuatkan lubang tanan dengan ukuran
40 x 40 x 40 cm dengan jarak tanam 2 m x 2,5 m, sehingga dalam 1 hektar
terdapat sekitar 2000 lubang tanam penyangga pada tiap tiang/pohon penyangga
itu dibuat 3 sampai 4 lubang tanarn dengan jarak sekitar 30 cm dari tiang
penyangga. Lubang tanam tersebut lalu diberi pupuk kandang yang masak sebanyak
5 sampai10 kg dicampur dengan tanah.
Persiapan untuk bibit dan penanaman buah naga
Buah naga bisa kita perbanyak dengan cara: Stek & Biji. Biasanya
ditanam dengan stek dibutuhkan bahan batang tanaman dengan panjang 25 hingga 30
cm yang ditanam dalam polybag dengan media tanam berupa campuran tanah, pasir
dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Kemudian setelah bibit berumur
3 bulan bibit siap dipindah atau ditanam.
Pemeliharaan buah naga
Pengairan Buah Naga. Pada tahap
awal pertumbuhan, pengairan dilakukan 1 sampai 2 hari sekali. Pemberian air
berlebihan akan menyebabkan terjadinya pembusukan.
Pemupukan. Pemupukan
tanaman diberikan pupuk kandang, dengan interval pemberian 3 bulan sekali,
sebanyak 5 sampai10 Kg.
Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Uniknya dari penanaman buah naga ini adalah belum
ditemukan adanya serangan hama dan penyakit yang potensial. Pembersihan lahan /
pengendalian gulma dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.
Pemangkasan Buah Naga. Batang utama
(primer) dipangkas, setelah tingginya mencapai tiang penyangga yakni sekitar 2
m, dan ditumbuhkan 2 cabang sekunder, lalu dari masing-masing cabang sekunder
dipangkas lagi dan ditumbuhkan 2 cabang tersier yang berfungsi sebagai cabang
produksi.
Panen Buah Naga. Setelah
tanaman berusia 1,5 hingga 2 tahun, mulai berbunga dan berbuah. Pemanenan pada
tanaman buah naga dilakukan pada buah yang memiliki ciri-ciri warna kulit merah
mengkilap, jumbai/sisik berubah warna dari hijau menjadi kemerahan. Pemanenan
dilakukan dengan menggunakan gunting, buah sudah bisa dipanen saat buah
mencapai umur 50 hari terhitung sejak bunga mekar dalam 2 tahun pertama.
Budidaya buah naga ini sepertinya tidak sulit, namun butuh waktu lama jika
ingin menikmati buahnya. Selamat berkebun.
Langganan:
Postingan (Atom)











.gif)