Tampilkan postingan dengan label Kabar Petani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Petani. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2016


Hari kerja pertama tahun ini, Kementerian Pertanian meneken kontrak pengadaan barang dana jasa senilai Rp 30 triliun. Pengadaan dilakukan dengan penunjukkan langsung dan menggunakan katalog elektronik.
"Hari ini kami lelang Rp 30,06 triliun. Sebanyak Rp 4,6 triliun diantaranya alat sistem pertanian (alsintan)," ujar Menteri Pertanian Amran Sulaiman di kantornya, Jakarta, Senin (4/1).
Amran mengklaim, terobosan ini membuat bantuan pemerintah bisa langsung didstribusikan dan bermanfaat bagi petani.
"Kami sudah lakukan proses pelelangan ini sejak November 2015 dan sudah ada pihak yang ditetapkan," katanya. "Oleh karena itu, kami berharap, dengan adanya kegiatan ini, maka distribusi kepada pihak pertanian bisa langsung dimanfaatkan,"
Berikut kontak pengadaan barang dan jasa yang dilakukan:
-Pupuk Bersubsidi dengan PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) senilai 30,06 triliun.
-Pencetakan sawah dengan Zeni Kodam senilai Rp1,5 triliun dan dengan Zenin TNI AD senilai Rp1,7 triliun.
-Benih bersubsidi dengan PT Pertani senilai 404 miliar dan dengan PT SHS senilai Rp404 miliar.
-Alsintan prapanen dengan 6 perusahan sebanyak 11 kontrak senilai Rp360 miliar.
-Alsintan pasca panen pada dengan kubota senilai Rp8,3 miliar.
-Asuransi pertanian dengan PT Jasindo senilai Rp114 miliar.
-Failitas keamanan kantor dan lingkungan Ditjen Horti senilai 723 juta dengan PT SIMS Services.
-Pemeliharaan Gedung Ditjen Horti senilai Rp637 juta dengan PT Tataruan Dinamika
-Obat, vitamin, dan calon bibit dengan CV Karya Inayah Selaras senilai Rp308 juta.
-Hijaukan pakan ternak dengan kelompok ternak sukabumi senilai Rp180 juta.

Kementerian Pertanian bakal mendistribusikan sebanyak 100 ribu alat mesin pertanian (Alsintan) pada 2016. Itu untuk menggenjot produktifitas 200 ribu hektar sawah.
"Misalnya kalau tanam biasanya 25 orang per 1 hektar, sekarang dengan adanya Alsintan maka cukup 1 orang dan biasanya dulu biaya tanam Rp 2 juta sekarang menjadi 1 juta. Jadi petani bisa menikmati karena adanya penurunan biaya produksi,dan tanam menjadi cepat," ujar Menteri Pertanian Amran Sulaiman, di kantornya, Jakarta, Senin (4/1).
Amran mengakui kalau Alat Mesin Pertanian mendorong petani menurunkan biaya produksi hingga 40 persen serta lebih menguntungkan kaum pertani.
Pihaknya mencontohkan secara teknis pengolahan lahan bisa meminimalisir lama waktu secara maksimal.
"Misalnya butuh 3 bulan untuk pengolahan lahan, dengan adanya Alsintan maka cukup 1,5 bulan maksimal 2 bulan. Bisanyanya juga tanam butuh seminggu sekarang setengah hari atau satu hari per hektar," tuturnya.
Amran menegaskan proses tender pengadaan Alsintan terjaga secara kualitas serta harga yang murah.
"Alsintan e-catalog ini untungnya kualitas tejamin, harga murah tidak pake lama cepat distribusi dan sangat menguntungkan nantinya," ungkapnya.

Senin, 21 Desember 2015


Program uji coba Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) tahun 2015 yang dilaksanakan pemerintah, banyak mendapatkan perhatian dari kalangan petani di Kabupaten Banyumas. Kebanyakan mempertanyakan apakah mereka juga disertakan dalam program itu.

''Saya mendapat informasi adanya program asuransi tani, saat menghadiri acara menyerahan bantuan alat pertanian di Setda Banyumas. Saat itu, Wabup Budi Setiawan menyatakan ada program asuransi tani. Tapi bagaimana programnya, tidak dijelaskan secara detail. Padahal banyak petani yang menanyakan masalah itu,'' jelas Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki Desa Notog Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas, Nurrohim, Ahad (20/12).

Untuk itu, saat ditanya petani soal detail program tersebut dan bagaimana ikut dalam program asuransi tani, dia mengaku belum bisa memberi jawaban. ''Saya juga baru dengar seperti itu. Belum ada sosialisasi dari Dinas Pertanian terhadap seluruh petani,'' katanya.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dinpertanbunhut) Banyumas, Tjutjun Sunarti Rochidie, mengakui program asuransi yang preminya mendapat bantuan subsidi dari pemerintah, memang tidak diberikan pada semua petani. Namun, asuransi baru diberikan pada sebagian petani yang ikut serta dalam program percepatan tanam.

''Yang ikut progran ini, hanya petani yang tergabung dalam 62 Gapoktan di Banyumas dengan luas lahan sekitar 6.000 hektar. Padahal jumlah Gapoktan di Banyumas ada sebanyak 301 Gapoktan dengan luas lahan sekitar 35 ribu hektar. Dengan demikian, program asuransi tani yang dilaksanakan pemerintah memang baru menjangkau sebagian kecil petani,'' katanya.

Menurutnya, dalam program asuransi tani tersebut, petani wajib membayar premi sebesar Rp 180 ribu per hektar untuk sekali masa tanam. Namun dari jumlah premi yang harus dibayar tersebut, 80 persennya dibayarkan pemerintah, sedangkan sisanya ditanggung oleh petani. ''Dengan demikian, setiap petani hanya membayar premi sekitar Rp 36 ribu,'' jelasnya.

Dengan kesertaan dalam program asuransi tersebut, bila petani mengalami gagal panen maka petani bersangkutan akan mendapatkan klaim asuransi sekitar Rp 6 juta. Untuk mendapatkan klaim tersebut, petani harus membuat laporan secara tertulis dengan rekomendasi dari petugas yang mengontrol langsung kondisi sawah.
 
Ketua Tim Teknis Program Percepatan Tanam dari Kodim 0701/Banyumas, Mayor Inf Amir Ma'ruf menyebutkan perusahaan asuransi yang mendapat tanggung jawab mengelola dana asuransi tani adalah PT Jasindo. ''Dengan demikian, bila ada petani peserta asuransi yang kelak mengalami gagal panen, pengajuan klaimnya ke perusahaan asuransi tersebut,'' jelasnya.

Soal banyak sawah yang tidak dikelola oleh pemilik lahan, Mayor Inf Amir Ma'ruf yang juga menjabat sebagai Kepala Staf Kodim 0701/Banyumas, menyatakan yang berhak mendapat asuransi adalah petani penggarapnya. ''Kalau yang menggarap adalah pemilik lahan sendiri, yang mendapat klaim asuransi adalah pemilik lahannya. Tapi kalau sawahnya disewakan garapannya, maka yang berhak mendapatkan klaim ya yang menyewa,'' ujarnya.

Rabu, 09 Desember 2015

Menteri Pertanian Amran Sulaiman di tahun 2016 mendatang akan menambah target perlengkapan tanam. Tak tanggung-tanggung jumlah tambahan perlengkapan tanam sebanyak 100.000 unit yang akan dibagikan kepada para petani didaerah.
Hal tersebut diungkapkan Arman pada acara pencanangan tanam serempak di Tangerang, Banten. Penambahan perlengkapan tanam tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan target produksi para petani ditahun 2016. “Tahun ini sebanyak 80.000, guna meningkatkan target produksi, kami tambah target 100.000 tahun depan,” papar Amran Sulaiman usai pencanangan tanam serempak di Tangerang, Banten, awal pekan ini.
Dikatakan, bantuan perlengkapan tanam tersebut terdiri dari transplanter, traktor tangan, serta alat irigasi seperti pompa dan selangnya. Nantinya, bantuan tersebut akan diberikan para petani dan akan dipakai secara bergantian.
“Bantuan ini memang semua orang tidak dapat satu per satu, tapi paling tidak bisa bergantian, itu bisa diatur, yang penting target per daerahnya tercapai,” tambahnya.
Selain bertujuan untuk meningkatkan target produksi, bantuan tersebut juga bertujuan agar pengusaha swasta didaerah-daerah turut memiliki atau membeli perlengkapan yang sama. “Nah, jika semua perlengkapan tersebut bisa dimiliki, maka ada dua hal yang tercapai, pertama akan meningkatkan indeks pertanaman, karena masa olah singkat. Selain itu, produktivitas hasil tanam bisa dipastikan meningkat, ada juga biaya produksi bisa turun hingga 50 persen,” tukasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Amran Sulaiman juga sempat membeberkan hasil peninjauan pencanangan gerakan pemberdayaan petani melalui kegiatan tanam serempak di Desa Rawakidang, Tangerang, Provinsi Banten. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 500 kabupaten di 34 provinsi Indonesia sudah memulai pencanangan tanam serempak, agar produksi padi bisa ditanam secara serempak pula.
“Jika tanam pada bulan ini (Desember, red) paling tidak nantinya akan bisa dimulai panen pada bulan Februari atau Maret 2016 nanti,” katanya.
Dari tanam serempak, Amran menargetkan pada bulan Maret 2016 sudah mencapai 9 juta hektar,sedangkan pada bulan Desember 2015 sudah dicanangkan target 3 juta hektare. (hrm)
- See more at: http://fajar.co.id/nasional/2015/12/09/2016-mentan-tambah-perlengkapan-tanam-100-000-unit-untuk-petani.html#sthash.FP8pKFIn.dpuf

Minggu, 22 November 2015


Keberhasilan budidaya tanaman cabe sangat ditentukan oleh kemampuan petani dalam mengendalikan hama atau penyakit yang menyerang tanaman, disamping juga oleh teknik budidaya yang dipilih.Gejala penyakit yang hampir selalu muncul pada pertanaman cabe adalah daun atau pucuk keriting, baik melengkung ke atas maupun ke bawah kemudian dalam tingkat serangan yang parah akan menguning dengan tulang daun yang terlihat jelas. Gejala seperti ini dapat disebabkan oleh hama Mite (Tetranychus Sp), Aphis (Aphis Sp), dan Thrips (Thrips Sp) yang menjadi vektor bagi  virus untuk menularkan penyakit keriting.
Gejala keriting yang disebabkan oleh mite, biasanya daun cabe akan melengkung ke bawah dimana bagian bawah daun berwarna agak kemerahan dan kaku. Mite yang menyerang cabe akan bersarang dan tinggal di bagian bawah daun, untuk program penyemprotan yang dilakukan harus mengarah pada bagian bawah daun. Akarisida yang dianjurkan untuk mengendalikan mite adalah Samite 135 yang berbahan aktif Pyridaben135 g/liter dan bekerja sebagai racun kontak dan racun pernafasan.

Hama Aphis dan Thrips sebagai penyebab keriting pada cabe,tempat bersarang dan gejala yang ditimbulkan berbeda. Aphis atau sering disebut kutu persik bersarang di bawah daun dan gejala keriting yang ditimbulkan adalah melengkung ke bawah. Sedangkan Thrips tempat bersarangnya adalah pada bunga dan pucuk-pucuk daun muda. Bunga yang terserang Thrips akan keriting dan rontok, sedangkan daun yang terserang akan keriting menggulung ke atas.

Sebenarnya ada bahaya lain yang ditimbulkan oleh Aphis atau Thrips pada tanaman cabe yaitu adanya penularan penyakit virus, karena keduanya dapat berfungsi sebagai vektor pembawa virus penyebab keriting. Seperti kita ketahui, sampai saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh virus, sdangkan kerugian yang ditimbulkan dapat menurunkan produksi sampai
  70% bahkan bisa rugi total apabila serangannya berawal saat tanaman masih kecil.

Program pengendalian penyakit virus keriting pada cabe paling baik adalah dilakukan sejak pemilihan bibit dan sesegera mungkin mengendalikan hama yang menjadi vektor virus. Pestisida yang dipilih harus bersifat sistemik agar mampu menjangkau Aphids yang bersembunyi di bawah daun dan Thrips yang bersarang di bagian bunga dan pucuk tanaman. Salah satu insektisida yang dianjurkan untuk mengendalikan Aphis dan Thrips pada tanaman cabe adalah Winder 25 dan Winder 100. Kedua isektisida ini berbahan aktif imidakloprid masing-masing 25 % dan 10 %, bersifat racun kontak dan racun lampung yang sistemik sehingga mampu melindungi tanaman yang baru tumbuh dan mampu membunuh hama meski yang tersembunyi. Cara aplikasinya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penyiraman pada lubang tanam dan penyemprotan pada seluruh bagian tanaman


Rabu, 18 November 2015




Mengikuti dinamika paska tahun 2000-an kini dan memperlihatkan kebutuhan baru untuk kembali pada pola pertanian yang alami, dimana semuanya itu tidak tergantung pada bahan-bahan zat-kimiawi dan sejenisnya. Hal ini sejalan dengan perkembangan pemahaman masyarakat mengenai bahaya penggunaan bahan-bahan kimiawi dalam kandungan bahan pangan mereka. Selain itu, gerakan perubahan untuk mendorong pola-pola pertanian yang lebih memperhatikan kelestarian lingkungan hidup menjadi salah satu daya dorong bermunculan dan berkembangnya usahatani organik, mulai dari beras sebagai sumber pangan utama di banyak tempat di Indonesia, hingga holtikultura maupun produk-produk pertanian lainnya, tegas Nur Hady dalam pembukaan seminar di hotel Sofyan tebet dengan tema: “DARI PETANI LOKAL KE PASAR GLOBAL MODEL USAHATANI BERAS ORGANIK DI TASIKMALAYA DAN BOYOLALI” (Jakarta 10/13/2015).

Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis (pupuk kimia/pabrik, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan zat aditif lainnya) dengan tujuan untuk menyediakan produk-produk pertanian (terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan lingkungan serta menjaga keseimbangan lingkungan. Perkembangan pertanian organik juga didukung oleh pemerintah, diantaranya dengan mencanangkan Indonesia Go Organik sejak tahun 2001. Produksi beras organik sebagai salah satu produk pertanian organik, mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Perkembangan kondisi masyarakat menjadi salah satu faktor utama meningkatnya permintaan pada hasil pertanian organik, khususnya beras organik. Segmen pasar dari produk pertanian organik, termasuk beras organik yang utama berasal dari kalangan kelas menengah dan pasar luar negeri. Terbentuknya segmentasi ini juga berasal dari meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat pada kesehatan, yang mengalami pergeseran dari pengobatan penyakit pada bentuk pencegahan penyakit, yang salah satunya dilakukan melalui konsumsi bahan pangan organik. Dikarenakan produksi produk pertanian organik yang membutuhkan kekhususan menyebabkan harga produk pertanian organik, termasuk beras organik masih tinggi dan hanya terjangkau oleh kalangan kelas menengah.

Pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan dan upaya menghindari konsumsi bahan pangan yang terkontaminasi bahan kimiawi, menjadikan produk beras organik wajib memiliki sertifikasi khusus yang membuktikan hal tersebut. Dari aspek fisik produk akhir, sulit membedakan produk pertanian organik dengan yang bukan organik, karena itu diperlukan sebuah mekanisme sertifikasi yang dapat menjamin konsumen akhir bahwa produk yang mereka konsumsi adalah benar dikelola dan dihasilkan dari praktek budidaya pertanian organik. Indonesia sendiri sudah memiliki mekanisme sertifikasi yang dilandasi oleh Peraturan Menteri Pertanian No. 380 Tahun 2005 dan No. 297 Tahun 2007 tentang Otoritas Kompeten Pangan Organik.

Dari Otoritas Kompeten Pangan Organik ini dibentuk lembaga-lembaga sertifikasi organik, yang saat ini jumlahnya mencapai 7 (tujuh) Lembaga Sertifikasi Pangan Organik atau LSPO (Komite Akreditasi Nasional, 2015). 
Usahatani beras organik wajib memenuhi persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk membuktikan bahwa lahan pertanian yang digunakan tidak atau belum tercemar zat atau bahan kimia, akses pada sumber air yang baik dan juga tidak tercemar. Saat ini memang perkembangan usahatani beras organik masih tersifat tersebar dalam kelompok-kelompok petani di daerah yang memenuhi persyaratan.

Pertanian organik di Indonesia sebagaimana terekam dalam beberapa hasil penelitian dan dari media massa adalah di Provinsi Sumatera Barat yang telah berjalan sejak 1997/1998, kemudian di Jember Jawa Timur sejak tahun 2001, Kabupaten Sleman Yogyakarta sejak 2009, dan juga di wilayah Kabupaten Boyolali Jawa Tengah dan Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat (lihat Widodo, YB, dkk, 2012). Berdasarkan latar belakang tersebut, Aliansi Petani Indonesia (API) bersama dengan para peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI) mencoba memotret gambaran model-model usahatani, khususnya beras organik di beberapa daerah yang dianggap telah berhasil mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mendorong usahatani beras organik. Dari sini kemudian API bersama LIPI melakukan studi mendalam di dua wilayah usahatani berbasis padi organik seperti pada Gapoktan Simpatik di Tasikmalaya, Jawa Barat dan Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI) di Boyolali, Jawa Tengah dapat menjadi contoh dan “peta jalan” bagi penguatan usaha tani padi Indonesia di masa depan.

Secara organisasi, usahatani SIMPATIK maupun APPOLI telah melakukan pengorganisasian produksi melalui konsolidasi lahan produktif dengan menerapkan kontrol internal baik pada level produksi maupun penanganan paska panen dan pemasaran. Metode penanaman, pemilihan benih hingga pemupukan, irigasi hingga paska panen dikelola secara sistematis dan terukur. Pada komoditi beras, kedua organisasi usaha tani tersebut juga menerapkan kontrol yang ketat melalui penggunaan ternologi penggilingan sendiri, hingga didapatkan hasil sesuai standard kualitas yang diinginkan, serta didukung dengan berbagai sertifikasi baik nasional maupun internasional, untuk memudahkan produk beras oragnik tersebut meluncur ke pasar dengan harga yang baik.

Saat ini kedua organisasi usaha tani tersebut telah mampu menembus pasar internasional, baik asia seperti Malaysia, Singapore, Brunei serta Negara-negara Eropa seperti Belgia, Belanda dan Jerman.

Dari gambaran model-model usaha tani ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi Petani, Kelompok Petani, Koperasi Petani, pemerintah daerah dan pemerintah ataupun masyarakat lainnya untuk memahami usahatani beras organik.


Mendapatkan masukan dari berbagai pihak atas temuan lapang selama proses penelitian “Dari Petani Lokal Ke Pasar Global Model Usahatani Beras Organik Di Tasikmalaya Dan Boyolali”, sehingga dapat melengkapi gambaran usahatani beras organik mulai dari proses persiapan kelompok petani, proses penataan lahan, proses tata produksi, dan penanganan paska panen yang efektif sehingga mengurangi kerugian dan meningkatkan keuntungan bagi petani.


Jumat, 13 November 2015

mentanptntf



Lampung (12/11) Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, menyambangi kebun buah seluas 3.700 hektar saat blusukan ke Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Di kebun milik PT. Nusantara Tropical Farm (NTF) itu, Mentan sempat berkeliling serta melepas ekspor nanas dan pisang untuk tujuan Amerika Serikat (AS) hingga China.
Mentan beserta rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB di lokasi dan disambut pemilik PT NTF, Budi Setiawan. Kemudian, rombongan disuguhkan aneka buah seperti, pisang, nanas, pepaya, jambu kristal dan buah naga.
Sambil menikmati sajian buah, Mentan sempat bertanya kepada pemilik NTF.
“Ini luas lahannya berapa, dan buah yang diekspor apa saja,” tanya Mentan ke Budi, di kantor PT NTF, Way Kambas, Lampung Timur, Lampung, Rabu (11/11/2015).
Lalu, Budi menjelaskan kepada Mentan, kebun NTF berdiri sejak 1993 dan luasnya mencapai 3.700 hektar.
“Kami tanam pisang, jambu kristal, nanas segar, buah naga, dan pepaya. Pisang dan nanas sudah kami ekspor rutin dalam jumlah besar. Kita sedang kembangkan terus pembibitannya dan akan perluasan lahan lagi,” terang Budi.
Selain itu, Budi mengatakan, pada 2014 lalu, produksi nanas mencapai 513,58 ton nanas segar. Ekspor nanas kaleng mencapai 9.021 kontainer dan konsentrat nanas sebanyak 1.629 kontainer. Total ekspor pada 2014 mencapai 10.650 kontainer.
Kemudian, produksi 2015 meningkat menjadi 514.750 ton nanas segar. Ekspor nanas kaleng mencapai 9.535 kontainer dan konsentrat sebanyak 1.622 kontainer. Total sudah mengekspor 11.417 kontainer. Selain itu, juga mengekspor nanas dan pisang ke beberapa negara diantarsnya Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa, Timur Tengah, Jepang, China, dan Australia.
Seusai dialog, rombongan Mentan kemudian diajak berkeliling kebun pisang dan nanas. Mentan juga berkesempatan melihat proses pasca panen. Tandan pisang sama sekali tidak menyentuh tanah. Tiap tandan pisang diproses dengan steril dan sangat teliti. Kotoran dibersihkan dari tiap sisir pisang. Pisang disortir tiap sisirnya lalu dikemas dalam kotak kardua. Di akhir proses sudah siap tiga unit kontainer besar yang dilengkapi pendingin untuk mengangkut pisang untuk diekspor. 
(Sumber: www.detik.com)

Rabu, 04 November 2015

Asuransi Pertanian

Pemerintah ingin memberikan perlindungan lebih kepada para petani. Salah satu cara yang yang dilakukan adalah dengan memberikan asuransi pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berharap, pemberian asuransi pertanian tersebut dapat berjalan pada tahun ini.
"Mudah-mudahan tahun ini," kata dia di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (6/8/2015). Amran bersikeras agar asuransi tersebut dapat segera terealisasi. Hal ini untuk melindungi para petani dari risiko seperti gagal panen.
"Kalau saya maunya lebih cepat. Petani bisa menikmati asuransi," tambahnya.
Sebelumnya, Amran menjelaskan untuk asuransi tersebut pemerintah akan menyiapkan anggaran subsidi premi asuransi pertanian sebesar Rp 150 miliar. "Untuk asuransi pertanian ada Rp 150 miliar, akan mulai jalan tahun ini," katanya.
Pada tahap awal, lanjut dia, asuransi ini hanya diperuntukan bagi pertanian tiga komoditas pangan utama, yaitu padi, jagung, dan kedelai. Dengan adanya asuransi ini diharapkan ada jaminan bagi para petani dalam proses produksi ketiga komoditas tersebut.
"Khusus untuk padi, jagung, dan kedelai. Tapi kita akan kembangkan. Teknisnya ada di Dirjen (Direktur Jenderal)," tuturnya.
Sementara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan para petani Indonesia akan memperoleh akses asuransi pertanian mulai tahun depan. Hal ini sejalan dengan kebijakan regulator industri keuangan itu untuk meningkatkan akses para petani ke sistem keuangan.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Non-Bank OJK, Firdaus Djaelani mengungkapkan, pemerintah pusat telah menganggarkan subsidi premi asuransi pertanian sebesar Rp 150 miliar di 2016. (Amd/Gdn)