Selasa, 03 November 2015
Senin, 02 November 2015
Senin, November 02, 2015 by UnknownNo comments
Bersikap jujur, berani mengambil risiko ditunjang pula dengan kreatifitas di pertanian, Udin Mac sukses di usaha pertanian dan penggilingan padi.
Udin Mac pada awalnya tidaklah ahli
di bidang pertanian. Ia hanya tamatan STM jurusan bangunan, namun keinginannya
pandai bercocok tanam begitu tinggi sehingga keahliannya dalam membuat meubel
ditinggalkannya. Ia lebih memilih bercocok tanam.
"Awalnya saya pengrajin kayu,
membuat kursi, bangku, meja dan lemari dari kayu dengan modal Rp300 ribu dan
sempat mempekerjakan sebanyak 16 tukang, juga pernah kerja di proyek membuat
jembatan, namun keinginan tetap bertani," kata Udin menceritakan tentang
pengalaman bekerja sejak masih muda.
Meninggalkan perkerjaan sebagai
pengrajin kayu, Udin mencoba bercocok tanam cabe diatas lahan ¾ hektare
miliknya sendiri di Desa Pasar Awi, Kampung Cibogo. Enam bulan lamanya ia
menanam cabe hasilnya kurang memuaskan, hampir seluruh cabe yang siap panen
musnah karena diterpa banjir, sehingga modal yang dimiliki habis.
Udin mencoba kembali berkecimpung di
kayu, tetapi lagi-lagi usaha itu kurang disukainya, dan saat ia menganggur
selama dua bulan, tersirat dalam benaknya menjadi penjual dan pembeli gabah dan
beras pada Tahun 2004.
Usaha jual beli beras cukup menarik
bagi Udin, namun bercocok tanam tetap digeluti bahkan ragamnya ditambah tidak
hanya cabe, tetapi juga tanam timun dan cesin.
"Saya tetap optimistis bertani
akan menghasilkan uang jika dikelola dengan baik, karena selain pengaruh
penyakit dan hama, faktor tanah juga berpengaruh, sehingga perlu tahu komposisi
campuran bahan yang dibutuhkan untuk tanah bagi sesuatu tanaman," kata
Ayah dari empat anak hasil buah perkawinannya dengan Nurhasanah ini.
Udin Mac walaupun pendidikannya bukan
di pertanian, tetapi dengan seringnya ia membaca Majalah Trubus, dan tidak
kenal lelahnya melakukan kreatifitas percobaan-percobaan terhadap struktur
tanah, maka iapun mampu menghasilkan cabe atau sayuran berkualitas.
"Sebenarnya tidak ada tanah yang
jelek, walaupun tanah itu berwarna merah, tetapi kalau kita tahu bahwa tanah
itu masih kekurangan pupuk kandang atau kurang unsur-unsur lainnya,
kemudian dicampur dengan unsur-unsur yang dimaksud maka tanaman dapat tumbuh
ditanah tersebut," kata anak dari pasangan H Muhamin Ace (alm) dan Hj Icih
ini mengisahkan kenapa ia mampu memelihara cabe atau tomat.
Setelah berhasil di pertanian dan
jual beli gabah atau beras, Udin berhasrat memiliki tempat penggilingan
padi agar gabah yang dibeli dari petani dapat diolah sendiri menjadi
beras.
Dari keuntungan yang diperoleh dari
panen cabe dan jual beli gabah, digunakan Udin untuk membangun tempat
penggilingan padi pada Tahun 2009.
Menambah biaya operasional ia memberanikan
diri meminjam ke BRI Syariah sebesar Rp50 juta, tetapi hanya digolkan Rp25
juta, yang kemudian hanya bisa digunakan untuk beli gabah.
Cicilan lunas selama satu tahun,
Udin meminjam lagi Rp70 juta, dan BRI Syariah mengabulkannya karena Udin
mematuhi perjanjian. Uang sebesar itu kemudian digunakan untuk membangun
tempat penggilingan padi, sisanya digunakan untuk menanam cabe atau
sayuran lainnya.
Dengan luas 1.300 meter persegi,
tempat penggilang padi dilengkapi dengan tiga unit tractor dan satu unit pompa,
dan mempekerjakan 12 orang yang semuanya pekerja harian yang diupah sesuai
dengan jerih payahnya, Udin tidak hanya mengolah gabah petani menjadi beras,
tapi juga membelinya untuk kemudian dijual ke Jakarta dan Serang.
Udin pandai memanfaatkan 12 orang
pekerjanya. Jika penggilingan padi tidak berjalan karena paceklik, maka
dialihkan untuk membantu usaha tanaman, sehingga tidak ada satu karyawannya
yang menganggur.
Udin memiliki sekitar 80 petani
binaan. Seluruh petani tersebut diberinya benih padi secara gratis, dan
ia juga menyediakan pupuk yang bisa dibayar setelah panen. Udin
juga bersedia menampung hasil panen berupa gabah dari 80 petani tersebut.
"Jadi petani di sini tidak
kesulitan menjual gabahnya, karena berapapun jumlahnya saya siap membelinya,
dan kemudian saya menjual ke pasar setelah menjadi beras," kata Udin dari
hasil usahanya tersebut mampu membeli satu unit mobil Xenia dan satu unit mobil
vios serta satu unit mobil bak terbuka untuk kegiatan usaha.
Walaupun sudah makmur, Udin yang suka
membaca majalah Trubus ini masih bercita-cita ingin mengembangkan usahanya,
bahkan berobsesi ingin membuat "Desa Cabe", di tempat ia berusaha.
"Saya ingin membantu masyarakat
di sini yang mempunyai tanah tapi tidak bisa mengolahnya, termasuk juga warga
yang masih menganggur untuk diajak bertani dengan ramai-ramai menanam
cabe," kata Udin Mac.
Minggu, 01 November 2015
Jumat, 30 Oktober 2015
Jumat, Oktober 30, 2015 by UnknownNo comments
ASPEK PEMASARAN DAN PERMODALAN
AGRIBISNIS PERTANIAN
Dalam agribisnis pertanian,
selain aspek produksi dan aspek permodalan, aspek pemasaran juga perlu
mendapatkan perhatian agar tingkat keberhasilan agribisnis lebih tinggi
sehingga keuntungan yang diperoleh akan lebih besar. Strategi
pemasaran yang tepat akan memperpendek sistem atau mata rantai perdagangan,
sehingga lost of benefit atau keuntungan yang hilang akibat panjangnya
tataniaga perdagangan bisa dihindari.
ASPEK PEMASARAN AGRIBISNIS PERTANIAN
Pengertian pemasaran jauh lebih
luas dari pasar. Di dalam pemasaran tercakup semua kegiatan yang berkaitan
dengan usaha memasarkan produk, termasuk juga jalur pemasaran/tata niaganya.
Untuk lebih jelasnya akan dibahas mengenai pasar, jalur pemasaran/ tata niaga,
dan kegiatan pemasaran.
A. Pasar
Pasar dapat diartikan sebagai
suatu organisasi tempat para penjual dan pembeli dapat dengan mudah saling
berhubungan. Bagi pengusaha agribisnis pertanian, pasar merupakan tempat
melempar hasil produksinya.
Dikenal ada beberapa macam pasar
(saluran distribusi) dalam agribisnis pertanian, antara lain pasar langsung
atau saluran distribusi langsung, saluran distribusi tidak langsung, dan
eksportir.
Saluran distribusi langsung yaitu saluran distribusi yang langsung mengarah pada konsumen, seperti hotel, restauran, rumah sakit dan rumah tangga. Saluran distribusi langsung ini biasanya dilakukan oleh pengusaha agribisnis pertanian dalam skala kecil atau pengusaha agribisnis pertanian yang sudah besar tetapi secara khusus mengadakan kerjasama dengan pihak konsumen dengan kriteria dan kualitas hasil peroduksi yang sudah disepakati. Dalam hal ini misalnya seorang pengusaha agribisnis pertanian mengadakan kerjasama dengan pihak industri pengolahan yang berbasis pertanian.
Saluran distribusi tidak langsung, seperti pasar pasar tradisional, swalayan, pedagang pengecer dan koperasi. Mata rantai atau tata niaga perdagangan dalam saluran distribusi ini sangat beragam. Ada kalanya seorang pelaku agribisnis pertanian yang langsung membawa hasil produksinya ke pasar, tetapi tidak sedikit pula yang karena keterbatasan sarana transportasi, arus informasi, dan komunikasi, hasil produksi agribisnis pertanian harus dikumpulkan oleh pedagang pengumpul.
Saluran distribusi yang terakhir adalah eksportir. Dari eksportir inilah nantinya konsumen luar negeri dapat dijangkau. Untuk melakukan ekspor hasil produksi agribisnis pertanian, biasanya ditetapkan standar mutu yang dikeluarkan oleh negara tujuan terhadap kualitas produk agribisnis pertanian. Dalam melakukan ekspor perlu memperhatikan keadaan dan kebutuhan pasar negara yang akan dituju.
Berbicara mengenai pasar sebaiknya dengan mempertimbangkan jarak antara sentral produksi dengan pasar atau konsumen tujuan. Pertimbangan ini didasarkan pada sifat dari produk agribisnis pertanian yang secara umum bukan merupakan komoditas yang tahan lama. Karena sifat inilah maka pasar relatif tidak boleh terlalu jauh dengan sentral produksi. Kalaupun terpaksa memperoleh pasar yang jauh, maka harus diimbangi dengan kelancaran lancar transportasi dan sistem pengemasan yang aman.
Saluran distribusi langsung yaitu saluran distribusi yang langsung mengarah pada konsumen, seperti hotel, restauran, rumah sakit dan rumah tangga. Saluran distribusi langsung ini biasanya dilakukan oleh pengusaha agribisnis pertanian dalam skala kecil atau pengusaha agribisnis pertanian yang sudah besar tetapi secara khusus mengadakan kerjasama dengan pihak konsumen dengan kriteria dan kualitas hasil peroduksi yang sudah disepakati. Dalam hal ini misalnya seorang pengusaha agribisnis pertanian mengadakan kerjasama dengan pihak industri pengolahan yang berbasis pertanian.
Saluran distribusi tidak langsung, seperti pasar pasar tradisional, swalayan, pedagang pengecer dan koperasi. Mata rantai atau tata niaga perdagangan dalam saluran distribusi ini sangat beragam. Ada kalanya seorang pelaku agribisnis pertanian yang langsung membawa hasil produksinya ke pasar, tetapi tidak sedikit pula yang karena keterbatasan sarana transportasi, arus informasi, dan komunikasi, hasil produksi agribisnis pertanian harus dikumpulkan oleh pedagang pengumpul.
Saluran distribusi yang terakhir adalah eksportir. Dari eksportir inilah nantinya konsumen luar negeri dapat dijangkau. Untuk melakukan ekspor hasil produksi agribisnis pertanian, biasanya ditetapkan standar mutu yang dikeluarkan oleh negara tujuan terhadap kualitas produk agribisnis pertanian. Dalam melakukan ekspor perlu memperhatikan keadaan dan kebutuhan pasar negara yang akan dituju.
Berbicara mengenai pasar sebaiknya dengan mempertimbangkan jarak antara sentral produksi dengan pasar atau konsumen tujuan. Pertimbangan ini didasarkan pada sifat dari produk agribisnis pertanian yang secara umum bukan merupakan komoditas yang tahan lama. Karena sifat inilah maka pasar relatif tidak boleh terlalu jauh dengan sentral produksi. Kalaupun terpaksa memperoleh pasar yang jauh, maka harus diimbangi dengan kelancaran lancar transportasi dan sistem pengemasan yang aman.
B. Jalur Pemasaran Atau
Tataniaga Produk Agribisnis Pertanian
Sebelum sampai ke tangan
konsumen, produk usaha agribisnis pertanian ini hampir selalu melalui
perantara. Jalan yang dilalui oleh produk agribisnis pertanian tersebut, dengan
atau tanpa melalui perantara hingga sampai kepada konsumen dikenal dengan
istilah jalur pemasaran atau jalur tata niaga.
Pada umumnya jalur tata niaga ada dua macam yaitu jalur langsung sederhana dan jalur dengan perantara.
Pada umumnya jalur tata niaga ada dua macam yaitu jalur langsung sederhana dan jalur dengan perantara.
1. Jalur tata niaga agribisnis
pertanian secara langsung
Di sini produsen langsung
berhadapan dengan konsumen. Harga yang dibayar konsumen sama besamya dengan
yang diterima produsen. Dengan demikian, dari segi harga, produsen akan
mendapatkan harga yang wajar. Di lain pihak konsumen juga merasa untung karena
mendapat produk yang lebih segar. Meskipun demikian, jalur tata niaga ini
mempunyai beberapa kelemahan seperti lingkup atau kapasitas pasar atau konsumen
yang tidak begitu luas, produsen tidak tertarik untuk meningkatkan pendapatan
dengan mengolah produk menjadi bentuk lain dan dengan harga yang lebih baik,
serta produsen tidak dapat meluaskan jaringan pemasaran karena dengan meluaskan
jaringan pemasaran, berarti terlepas dari profesinya sebagai petani atau
produsen.
2. Jalur tata niaga agribisnis
pertanian dengan perantara
Jalur tata niaga ini melibatkan
pedagang perantara sehingga produsen tidak dapat langsung berhubungan dengan
konsumen. Yang dimaksud dengan pedagang perantara yaitu pedagang yang memiliki
dan menguasai barang serta menyalurkan dengan tujuan mendapat keuntungan.
Macam pedagang perantara yang biasa dijumpai dalam usaha agribisnis pertanian adalah pedagang eceran, pedagang besar, dan pedagang pengumpul. Pedagang eceran merupakan perantara yang menjual barang dagangannya langsung kepada konsumen akhir. Sementar pedagang besar adalah pedagang yang menerima produk agribisnis pertanian dari petani atau pedagang pengumpul dan menyalurkan kepada pedagang kecil atau eceran. Sedangkan pedagang pengumpul merupakan pedagang yang mengumpulkan sejumlah kecil produk dan beberapa produsen dan menjualnya dalam jumlah besar pada langganannya. Pendek kata, semua pedagang yang berfungsi sebagai penyalur dan produsen ke konsumen adalah pedagang perantara.
Macam pedagang perantara yang biasa dijumpai dalam usaha agribisnis pertanian adalah pedagang eceran, pedagang besar, dan pedagang pengumpul. Pedagang eceran merupakan perantara yang menjual barang dagangannya langsung kepada konsumen akhir. Sementar pedagang besar adalah pedagang yang menerima produk agribisnis pertanian dari petani atau pedagang pengumpul dan menyalurkan kepada pedagang kecil atau eceran. Sedangkan pedagang pengumpul merupakan pedagang yang mengumpulkan sejumlah kecil produk dan beberapa produsen dan menjualnya dalam jumlah besar pada langganannya. Pendek kata, semua pedagang yang berfungsi sebagai penyalur dan produsen ke konsumen adalah pedagang perantara.
Banyaknya pedagang perantara
membuat mata rantai tata niaga menjadi semakin panjang. Akibatnya tingkat harga
yang diterima petani relatif sangat rendah dibanding dengan harga yang harus
dibayar oleh konsumen. Untuk mengatasi hal ini, perlu adanya upaya memperpendek
jalur tata niaga, disamping upaya peningkatan efisiensi peranan lembaga tata
niaga serta perbaikan sarana transportasi.
Secara garis besar produk
agrobisnis pertanian dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu
produk agribisnis tanaman pangan dan produk agribisnis hortikultura. Produk
tanaman pangan diantaranya adalah padi, jagung, sagu, singkong, dan ketela
rambat. Sementara produk hortikultur mencakup semua produk sayur dan
buah-buahan.
Berikut ini simulasi jalur tata
niaga agribisnis pertanian
C. Kegiatan Pemasaran Produk
Agribisnis Pertanian
Dalam usaha agribisnis pertanian
kegiatan pemasaran berperan sebagai pembuka jalan bagi produk untuk sampai ke
pasar. Bila kegiatan ini sampai terhambat, produk akan tersendat-sendat
memasuki pasar. Padahal, produk dari usaha agribisnis pertanian mempunyai sifat
yang mudah sekali rusak atau tidak tahan lama.
Berkaitan dengan kegiatan
pemasaran, yang perlu dilakukan oleh pengusaha agribisnis pertanian adalah
memahami tentang studi pemasaran, memperkirakan jumlah produksi, mempersiapkan
produk, menentukan harga jual, menentukan distribusi, dan menentukan kebijakkan
promosi.
1. Studi Pemasaran Agribisnis
Pertanian
Studi pemasaran ini mencakup
aspek yang cukup luas, antara lain studi pasar, studi mengenai produk yang
dihasilkan, distribusi, konsumen, dan promosi (jika perlu). Studi pemasaran
dimaksudkan untuk mencari data-data mengenai permintaan terhadap jenis
komoditas agribisnis pertanian pada waktu lalu, sekarang, dan yang akan datang.
2. Memperkirakan Jumlah
Produksi Agribisnis Pertanian
Perkiraan jumlah produksi
berfungsi untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pemasaran telah sesuai
dengan yang direncanakan. Pada umumnya permintaan terhadap produk usaha
agribisnis pertanian selalu mengalami pasang surut. Jika tidak diatasi dengan
usaha memperkirakan jumlah penjualan maka akan terjadi kelebihan produk yang
tidak bisa dilempar ke pasar. Atau, kalaupun bisa memasuki pasar maka harganya
akan turun jauh di bawah harga yang di inginkan.
3. Mempersiapkan Produk
Agribisnis Pertanian
Pengusaha agribisnis harus
benar-benar tahu produk seperti apa kualitas produk yang diinginkan oleh
konsumen. Untuk menghasilkan produk yang bisa memenuhi keinginan konsumen,
antara lain dapat ditempuh dengan cara:
- menetapkan standar kualitas produk agribisnis pertanian,
- tidak mengandalkan satu jenis produk atau komoditas agribisnis pertanian,
- usahakan menggunakan kemasan spesial sehingga menarik konsumen,
- buat inovasi untuk mencoba membuat produk olahan sehingga produk agribisnis pertanian bisa memiliki nilai tambah
4. Menentukan Kebijakan Harga
Jual Produk Agribisnis
Harga jual akan sangat menentukan
posisi pengusaha dalam persaingan. Harga jual yang ditetapkan harus benar-benar
dapat memberikan kepuasan kepada konsumen di samping harus dapat memenuhi
pencapaian tujuan perusahaan. Memang pada kenyataannya harga jual komoditi
agribisnis pertanian sangat tidak menentu. Hal ini tentu saja akibat dari tidak
adanya estimasi produksi yang dilakukan oleh praktisi agribisnis pertanian
karena memang daya dukung sumber data untuk melakukan itu sangat tidak
mewakili. Akan tetapi, sebagai pelaku agribisnis yang maju, tentu saja segala
upaya akan dilakukan untuk membuat analisa pasar terhadap kebutuhan konsumen
akan jenis produk agribisnis. Selain itu perkiraan jumlah produksi secara
nasional terhadap jenis komoditi agribisnis pertanian juga perlu dilakukan.
Dengan melakukan estimasi produksi dan analisa kebutuhan konsumen tersebut,
maka paling tidak pelaku usaha agribisnis pertanian sudah berupaya untuk
mengantisipasi resiko harga jatuh pada saat panen. Sekalipun tingkat akurasi
analisa pasar tersebut masih sangat rendah. Dengan jam terbang yang tinggi,
maka tingkat akurasi akan semakin baik.
5. Menentukan Distribusi
Produk Agribisnis
Dalam menentukan saluran
distribusi produk atau komoditas, pengusaha agribisnis pertanian dapat memilih
untuk melakukannya sendiri atau melalui perantara. Ada beberapa alasan
pengusaha memilih perantara dalam mendistribusikan produknya antara lain
- pertimbangan dana dan personalia penjualan,
- efisiensi kerja,
- keadaan prasarana daerah pemasaran setempat, dan
- pengetahuan dan pengalaman menangani daerah pemasaran setempat.
6. Menentukan Kebijakan
Promosi Produk Agribisnis
Promosi merupakan kegiatan
memperkenalkan, meyakinkan, dan mengingatkan kembali manfaat dan kualitas
produk kepada konsumen. Promosi biasanya dilakukan terhadap jenis komoditi
agribisnis baru atau peluncuran varietas baru. Kegiatan promosi harus
memperhatikan beberapa hal, yaitu:
- jumlah dana yang tersedia untuk promosi,
- masa tahapan siklus produksi,
- konsumen yang ingin dituju, dan
- sifat atau ciri khusus produk yang dihasilkan.
Kebanyakan pengusaha agribisnis
pertanian belum begitu memperhatikan masalah promosi, karena rata-rata usahanya
belum begitu intensif. Akan tetapi jika kapasitas usahanya sudah semakin besar
dan melakukan ekspansi usaha pada kegiatan pengolahan hasil agribisnis
pertanian, maka mau tidak mau kegiatan promosi ini harus dilakukan.
Terima Kasih ( http://petanimembangun.blogspot.co.id/)
Rabu, 28 Oktober 2015
Rabu, Oktober 28, 2015 by UnknownNo comments
Pupuk
bokashi merupakan pupuk kompos yang dibuat dengan cara fermentasi. Bahan baku
pupuk bokashi terdiri dari sisa tanaman, kotoran ternak, sampah dapur atau
campuran material organik lainnya. Pupuk bokashi dibuat dengan memanfaatkan
aktivitas mikroorganisme efektif (EM4) sebagai dekomposernya.
Bokashi
dipopulerkan pertamakali di Jepang sebagai pupuk
organik yang
bisa dibuat dengan cepat dan efektif. Terminologi bokashi diambil dari istilah
bahasa Jepang yang artinya perubahan secara bertahap. Sedangkan EM4 merupakan
jenis mikroorganisme dekomposer untuk membuat pupuk bokashi. EM4 dipopulerkan
oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Jepang.
Proses
pembuatan pupuk bokashi relatif lebih cepat dari pengomposan konvensional. Bokashi sudah siap dijadikan
pupuk dalam tempo 1-14 hari sejak dibuat, tergantung dari bahan baku dan metode
yang digunakan. Membuat bokashi sangat mudah, bisa dilakukan dalam skala rumah
tangga maupun skala pertanian yang lebih besar. Berikut ini kami jelaskan
tahap-tahapnya.
Menyiapkan
mikroorganisme dekomposer (EM4)
Hal
pertama yang harus dilakukan untuk membuat pupuk bokashi adalah menyiapkan
mikroorganisme dekomposernya. Salah satu dekomposer bokashi yang paling populer
adalah EM4. Larutan EM4 terdiri dari mikroorganisme yang diisolasi secara
khusus untuk menguraikan sampah organik dengan cepat. Mikroorganisme yang
terkandung dalam EM4 terdiri dari bakteri fotosintesis, bakteri asam laktat (Lactobacillus
sp), Actinomycetes dan ragi.
EM4
dijual dipasaran dalam bentuk cairan kental yang telah dikemas dalam berbagai
ukuran. Untuk membuat dekomposer bokashi, kita cukup mengencerkan cairan
tersebut dan mencampurkannya dengan bahan baku bokashi. Selain membelinya, kita
juga bisa membuat cairan mikroorganisme efektif (EM) sendiri. Berikut
langkah-langkahnya:
- Siapkan
bahan-bahan berikut: pepaya dan kulitnya 0,5 kg, pisang dan kulitnya 0,5
kg, nenas dan kulitnya 0,5 kg, kacang panjang segar 0,25 kg, sayuran hijau
(kangkung/bayam) 0,25 kg, gula pasir 1kg dan ragi tape 5 butir.
- Campur
pepaya, nenas, pisang, kacang panjang dan sayuran dan lumatkan bahan-bahan
tersebut dengan blender.
- Masukkan
bahan-bahan yang telah dilumat kedalam ember yang ada penutupnya. Lalu
tambahkan 1 liter air, gula pasir dan ragi tape. Aduk perlahan hingga
merata. Kemudian tutup ember dengan rapat, diamkan selama 7 hari.
- Setelah
tujuh hari akan terbentuk cairan berwarna coklat gelap. Saring cairan
tersebut, air hasil saringan merupakan larutan efektif mikroorganisme (EM)
yang bisa dijadikan dekomposer pupuk bokashi. Simpan cairan dalam
wadah/botol. Larutan EM bisa dipakai hingga 6 bulan, sedangkan ampasnya
bisa digunakan sebagai kompos.
Membuat
pupuk bokashi skala pertanian (1 ton)
Pupuk
bokashi bisa dibuat dari hijauan sisa panen dan limbah peternakan. Waktu yang
diperlukan untuk membuat bokashi skala besar dan skala kecil sama saja, yang
membedakannya adalah volume bahan bakunya. Berikut tahapan membuat bokashi
untuk penggunaan pertanian:
- Siapkan
bahan-bahan berikut: 200 kg jerami atau sisa hijauan, 600 kg kotoran
ternak yang telah kering, 50 kg serbuk gergaji/dedak, 50 kg arang
sekam, 100
kg humus (top soil, berasal dari tanah hutan lebih baik), 1 liter larutan
dekomposer (EM4) dan 1 kg gula pasir.
- Pilih
tempat fermentasi yang terlindung dari air hujan dan sengatan matahari
langsung. Buat lubang berbentuk persegi panjang di atas tanah tersebut
dengan lebar 1 meter, panjang 2 meter dan dalam 30-50 cm, atau sesuaikan
ukuran lubang dengan banyaknya bahan baku.
- Cacah
jerami atau hijauan kecil-kecil, campuran bahan-bahan organik yang telah
disiapkan, aduk hingga merata dengan cangkul atau sekop. Bila perlu
(misalnya tanah Anda asam), tambahkan abu (Mg) dan kapur pertanian (Ca)
untuk memperkaya kandungan hara pupuk bokashi yang dihasilkan.
- Encerkan
larutan EM4, ambil 1 liter larutan campurkan dengan 200 liter air bersih
dan 1 kg gula pasir. Kemudian siramkan pada campuran bahan baku sambil
diaduk. Atur kelembaban hingga mencapai 30-40%. Untuk memperkirakan
tingkat kelembaban, kepalkan campuran hingga bisa menggumpal tapi tidak
sampai mengeluarkan air. Apabila kelembabannya kurang, tambahkan air
secukupnya.
- Tutup
rapat lubang fermentasi dengan plastik atau terpal, diamkan hingga 7-14
hari. Perlu diingat, kontrol suhu fermentasi hingga maksimal 45oC.
Apabila melebihi suhu tersebut, aduk dengan cangkul agar suhunya turun.
- Setelah
14 hari, biasanya pupuk bokashi sudah terbentuk dan bisa diaplikasikan
langsung.
Membuat
pupuk bokashi skala rumah tangga
Pupuk
bokashi bisa dibuat dalam skala rumah tangga dengan memanfaatkan limbah dapur
atau sisa makanan. Bokashi dari hasil daur ulang sampah bisa digunakan untuk
memupuk tanaman pekarangan. Penggunaannya sama dengan penggunaan pupuk organik
yang dijual dipasaran. Berikut tahapan membuatnya:
- Siapkan
bahan-bahan berikut: sisa sayuran, buah-buahan, sisa makanan (nasi, roti,
dll), tulang ikan, tulang ayam, 5 kg dedak/serbuk gergaji, 5 kg arang
sekam, 10 ml EM4 dan dua sendok gula pasir.
- Siapkan
satu tong plastik ukuran 200 liter. Buat lubang bagian bawahnya untuk
mengeluarkan cairan hasil pengomposan. Cairan ini berguna sebagai pupuk
organik cair.
- Potong atau
rajang material organik menjadi potongan kecil, campurkan dengan
dedak/serbuk gergaji dan arang sekam.
- Encerkan 10
ml larutan EM4 dengan 1 liter air, tambahkan dua sendok gula pasir.
Kemudian siramkan pada campuran bahan baku tadi.
- Tutup rapat
tong plastik, apabila suhu melebihi 45oC. Abila warna dan
teksturnya sudah seperti tanah, itu tandanya pupuk bokashi sudah
terbentuk. Prosesnya kira-kira 5-7 hari.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)







.gif)