Senin, 30 November 2015
Senin, November 30, 2015 by UnknownNo comments
Kamis, 26 November 2015
Minggu, 22 November 2015
Minggu, November 22, 2015 by UnknownNo comments
Keberhasilan
budidaya tanaman cabe sangat ditentukan oleh kemampuan petani dalam mengendalikan hama atau penyakit yang
menyerang tanaman, disamping juga oleh teknik budidaya yang dipilih.Gejala penyakit yang hampir selalu muncul
pada pertanaman cabe adalah daun atau pucuk keriting, baik melengkung ke atas
maupun ke bawah kemudian dalam tingkat serangan yang parah akan menguning
dengan tulang daun yang terlihat jelas. Gejala seperti ini dapat disebabkan
oleh hama Mite (Tetranychus Sp), Aphis (Aphis Sp), dan Thrips (Thrips Sp) yang
menjadi vektor bagi virus untuk menularkan penyakit keriting.
Gejala keriting yang disebabkan oleh mite,
biasanya daun cabe akan melengkung ke bawah dimana bagian bawah daun berwarna
agak kemerahan dan kaku. Mite yang menyerang cabe akan bersarang dan tinggal di
bagian bawah daun, untuk program penyemprotan yang dilakukan harus mengarah
pada bagian bawah daun. Akarisida yang dianjurkan untuk mengendalikan mite
adalah Samite 135 yang berbahan aktif Pyridaben135 g/liter dan
bekerja sebagai racun kontak dan racun pernafasan.
Hama Aphis dan Thrips sebagai penyebab keriting pada cabe,tempat bersarang dan gejala yang ditimbulkan berbeda. Aphis atau sering disebut kutu persik bersarang di bawah daun dan gejala keriting yang ditimbulkan adalah melengkung ke bawah. Sedangkan Thrips tempat bersarangnya adalah pada bunga dan pucuk-pucuk daun muda. Bunga yang terserang Thrips akan keriting dan rontok, sedangkan daun yang terserang akan keriting menggulung ke atas.
Sebenarnya ada bahaya lain yang ditimbulkan oleh Aphis atau Thrips pada tanaman cabe yaitu adanya penularan penyakit virus, karena keduanya dapat berfungsi sebagai vektor pembawa virus penyebab keriting. Seperti kita ketahui, sampai saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh virus, sdangkan kerugian yang ditimbulkan dapat menurunkan produksi sampai 70% bahkan bisa rugi total apabila serangannya berawal saat tanaman masih kecil.
Program pengendalian penyakit virus
keriting pada cabe paling baik adalah dilakukan sejak pemilihan bibit dan
sesegera mungkin mengendalikan hama yang menjadi vektor virus. Pestisida yang
dipilih harus bersifat sistemik agar mampu menjangkau Aphids yang bersembunyi
di bawah daun dan Thrips yang bersarang di bagian bunga dan pucuk tanaman.
Salah satu insektisida yang dianjurkan untuk mengendalikan Aphis dan Thrips
pada tanaman cabe adalah Winder
25 dan Winder 100. Kedua isektisida ini berbahan aktif
imidakloprid masing-masing 25 % dan 10 %, bersifat racun kontak dan racun
lampung yang sistemik sehingga mampu melindungi tanaman yang baru tumbuh dan
mampu membunuh hama meski yang tersembunyi. Cara aplikasinya dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu penyiraman pada lubang tanam dan penyemprotan pada
seluruh bagian tanaman
Rabu, 18 November 2015
Rabu, November 18, 2015 by UnknownNo comments
Mengikuti dinamika paska
tahun 2000-an kini dan memperlihatkan kebutuhan baru untuk kembali pada pola
pertanian yang alami, dimana semuanya itu tidak tergantung pada bahan-bahan
zat-kimiawi dan sejenisnya. Hal ini sejalan dengan perkembangan pemahaman masyarakat
mengenai bahaya penggunaan bahan-bahan kimiawi dalam kandungan bahan pangan
mereka. Selain itu, gerakan perubahan untuk mendorong pola-pola pertanian yang
lebih memperhatikan kelestarian lingkungan hidup menjadi salah satu daya dorong
bermunculan dan berkembangnya usahatani organik, mulai dari beras sebagai
sumber pangan utama di banyak tempat di Indonesia, hingga holtikultura maupun
produk-produk pertanian lainnya, tegas Nur Hady dalam pembukaan seminar di
hotel Sofyan tebet dengan tema: “DARI PETANI LOKAL KE PASAR GLOBAL MODEL
USAHATANI BERAS ORGANIK DI TASIKMALAYA DAN BOYOLALI” (Jakarta 10/13/2015).
Pertanian organik adalah
sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari
atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis (pupuk kimia/pabrik, pestisida,
herbisida, zat pengatur tumbuh dan zat aditif lainnya) dengan tujuan untuk
menyediakan produk-produk pertanian (terutama bahan pangan) yang aman bagi
kesehatan produsen dan lingkungan serta menjaga keseimbangan lingkungan.
Perkembangan pertanian organik juga didukung oleh pemerintah, diantaranya
dengan mencanangkan Indonesia Go Organik sejak tahun 2001. Produksi beras
organik sebagai salah satu produk pertanian organik, mengalami perkembangan
yang cukup pesat.
Perkembangan kondisi
masyarakat menjadi salah satu faktor utama meningkatnya permintaan pada hasil
pertanian organik, khususnya beras organik. Segmen pasar dari produk pertanian
organik, termasuk beras organik yang utama berasal dari kalangan kelas menengah
dan pasar luar negeri. Terbentuknya segmentasi ini juga berasal dari
meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat pada kesehatan, yang mengalami
pergeseran dari pengobatan penyakit pada bentuk pencegahan penyakit, yang salah
satunya dilakukan melalui konsumsi bahan pangan organik. Dikarenakan produksi
produk pertanian organik yang membutuhkan kekhususan menyebabkan harga produk
pertanian organik, termasuk beras organik masih tinggi dan hanya terjangkau
oleh kalangan kelas menengah.
Pengetahuan dan kesadaran
tentang kesehatan dan upaya menghindari konsumsi bahan pangan yang
terkontaminasi bahan kimiawi, menjadikan produk beras organik wajib memiliki
sertifikasi khusus yang membuktikan hal tersebut. Dari aspek fisik produk
akhir, sulit membedakan produk pertanian organik dengan yang bukan organik,
karena itu diperlukan sebuah mekanisme sertifikasi yang dapat menjamin konsumen
akhir bahwa produk yang mereka konsumsi adalah benar dikelola dan dihasilkan
dari praktek budidaya pertanian organik. Indonesia sendiri sudah memiliki
mekanisme sertifikasi yang dilandasi oleh Peraturan Menteri Pertanian No. 380
Tahun 2005 dan No. 297 Tahun 2007 tentang Otoritas Kompeten Pangan Organik.
Dari Otoritas Kompeten
Pangan Organik ini dibentuk lembaga-lembaga sertifikasi organik, yang saat ini
jumlahnya mencapai 7 (tujuh) Lembaga Sertifikasi Pangan Organik atau LSPO
(Komite Akreditasi Nasional, 2015).
Usahatani beras organik wajib memenuhi persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk membuktikan bahwa lahan pertanian yang digunakan tidak atau belum tercemar zat atau bahan kimia, akses pada sumber air yang baik dan juga tidak tercemar. Saat ini memang perkembangan usahatani beras organik masih tersifat tersebar dalam kelompok-kelompok petani di daerah yang memenuhi persyaratan.
Usahatani beras organik wajib memenuhi persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk membuktikan bahwa lahan pertanian yang digunakan tidak atau belum tercemar zat atau bahan kimia, akses pada sumber air yang baik dan juga tidak tercemar. Saat ini memang perkembangan usahatani beras organik masih tersifat tersebar dalam kelompok-kelompok petani di daerah yang memenuhi persyaratan.
Pertanian organik di
Indonesia sebagaimana terekam dalam beberapa hasil penelitian dan dari media
massa adalah di Provinsi Sumatera Barat yang telah berjalan sejak 1997/1998,
kemudian di Jember Jawa Timur sejak tahun 2001, Kabupaten Sleman Yogyakarta
sejak 2009, dan juga di wilayah Kabupaten Boyolali Jawa Tengah dan Kabupaten
Tasikmalaya Jawa Barat (lihat Widodo, YB, dkk, 2012). Berdasarkan latar
belakang tersebut, Aliansi Petani Indonesia (API) bersama dengan para peneliti
di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI) mencoba memotret gambaran
model-model usahatani, khususnya beras organik di beberapa daerah yang dianggap
telah berhasil mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mendorong usahatani
beras organik. Dari sini kemudian API bersama LIPI melakukan studi mendalam di
dua wilayah usahatani berbasis padi organik seperti pada Gapoktan Simpatik di
Tasikmalaya, Jawa Barat dan Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI) di
Boyolali, Jawa Tengah dapat menjadi contoh dan “peta jalan” bagi penguatan
usaha tani padi Indonesia di masa depan.
Secara organisasi,
usahatani SIMPATIK maupun APPOLI telah melakukan pengorganisasian produksi
melalui konsolidasi lahan produktif dengan menerapkan kontrol internal baik
pada level produksi maupun penanganan paska panen dan pemasaran. Metode
penanaman, pemilihan benih hingga pemupukan, irigasi hingga paska panen
dikelola secara sistematis dan terukur. Pada komoditi beras, kedua organisasi
usaha tani tersebut juga menerapkan kontrol yang ketat melalui penggunaan
ternologi penggilingan sendiri, hingga didapatkan hasil sesuai standard
kualitas yang diinginkan, serta didukung dengan berbagai sertifikasi baik
nasional maupun internasional, untuk memudahkan produk beras oragnik tersebut
meluncur ke pasar dengan harga yang baik.
Saat ini kedua organisasi
usaha tani tersebut telah mampu menembus pasar internasional, baik asia seperti
Malaysia, Singapore, Brunei serta Negara-negara Eropa seperti Belgia, Belanda
dan Jerman.
Dari gambaran model-model usaha tani ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi
Petani, Kelompok Petani, Koperasi Petani, pemerintah daerah dan pemerintah
ataupun masyarakat lainnya untuk memahami usahatani beras organik.
Mendapatkan masukan dari berbagai pihak atas temuan lapang selama proses penelitian “Dari Petani Lokal Ke Pasar Global Model Usahatani Beras Organik Di Tasikmalaya Dan Boyolali”, sehingga dapat melengkapi gambaran usahatani beras organik mulai dari proses persiapan kelompok petani, proses penataan lahan, proses tata produksi, dan penanganan paska panen yang efektif sehingga mengurangi kerugian dan meningkatkan keuntungan bagi petani.
Jumat, 13 November 2015
Jumat, November 13, 2015 by UnknownNo comments
Lampung (12/11) Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, menyambangi kebun buah seluas 3.700 hektar saat blusukan ke Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Di kebun milik PT. Nusantara Tropical Farm (NTF) itu, Mentan sempat berkeliling serta melepas ekspor nanas dan pisang untuk tujuan Amerika Serikat (AS) hingga China.
Mentan beserta rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB di lokasi dan disambut pemilik PT NTF, Budi Setiawan. Kemudian, rombongan disuguhkan aneka buah seperti, pisang, nanas, pepaya, jambu kristal dan buah naga.
Sambil menikmati sajian buah, Mentan sempat bertanya kepada pemilik NTF.
“Ini luas lahannya berapa, dan buah yang diekspor apa saja,” tanya Mentan ke Budi, di kantor PT NTF, Way Kambas, Lampung Timur, Lampung, Rabu (11/11/2015).
Lalu, Budi menjelaskan kepada Mentan, kebun NTF berdiri sejak 1993 dan luasnya mencapai 3.700 hektar.
“Kami tanam pisang, jambu kristal, nanas segar, buah naga, dan pepaya. Pisang dan nanas sudah kami ekspor rutin dalam jumlah besar. Kita sedang kembangkan terus pembibitannya dan akan perluasan lahan lagi,” terang Budi.
Selain itu, Budi mengatakan, pada 2014 lalu, produksi nanas mencapai 513,58 ton nanas segar. Ekspor nanas kaleng mencapai 9.021 kontainer dan konsentrat nanas sebanyak 1.629 kontainer. Total ekspor pada 2014 mencapai 10.650 kontainer.
Kemudian, produksi 2015 meningkat menjadi 514.750 ton nanas segar. Ekspor nanas kaleng mencapai 9.535 kontainer dan konsentrat sebanyak 1.622 kontainer. Total sudah mengekspor 11.417 kontainer. Selain itu, juga mengekspor nanas dan pisang ke beberapa negara diantarsnya Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa, Timur Tengah, Jepang, China, dan Australia.
Seusai dialog, rombongan Mentan kemudian diajak berkeliling kebun pisang dan nanas. Mentan juga berkesempatan melihat proses pasca panen. Tandan pisang sama sekali tidak menyentuh tanah. Tiap tandan pisang diproses dengan steril dan sangat teliti. Kotoran dibersihkan dari tiap sisir pisang. Pisang disortir tiap sisirnya lalu dikemas dalam kotak kardua. Di akhir proses sudah siap tiga unit kontainer besar yang dilengkapi pendingin untuk mengangkut pisang untuk diekspor.
(Sumber: www.detik.com)
Langganan:
Postingan (Atom)








.gif)