Senin, 30 November 2015

Kamis, 26 November 2015

METODE CERDAS - Desain Produk 250x250
Kursus Advance SEO - Saung Seo 468x60

Minggu, 22 November 2015


Keberhasilan budidaya tanaman cabe sangat ditentukan oleh kemampuan petani dalam mengendalikan hama atau penyakit yang menyerang tanaman, disamping juga oleh teknik budidaya yang dipilih.Gejala penyakit yang hampir selalu muncul pada pertanaman cabe adalah daun atau pucuk keriting, baik melengkung ke atas maupun ke bawah kemudian dalam tingkat serangan yang parah akan menguning dengan tulang daun yang terlihat jelas. Gejala seperti ini dapat disebabkan oleh hama Mite (Tetranychus Sp), Aphis (Aphis Sp), dan Thrips (Thrips Sp) yang menjadi vektor bagi  virus untuk menularkan penyakit keriting.
Gejala keriting yang disebabkan oleh mite, biasanya daun cabe akan melengkung ke bawah dimana bagian bawah daun berwarna agak kemerahan dan kaku. Mite yang menyerang cabe akan bersarang dan tinggal di bagian bawah daun, untuk program penyemprotan yang dilakukan harus mengarah pada bagian bawah daun. Akarisida yang dianjurkan untuk mengendalikan mite adalah Samite 135 yang berbahan aktif Pyridaben135 g/liter dan bekerja sebagai racun kontak dan racun pernafasan.

Hama Aphis dan Thrips sebagai penyebab keriting pada cabe,tempat bersarang dan gejala yang ditimbulkan berbeda. Aphis atau sering disebut kutu persik bersarang di bawah daun dan gejala keriting yang ditimbulkan adalah melengkung ke bawah. Sedangkan Thrips tempat bersarangnya adalah pada bunga dan pucuk-pucuk daun muda. Bunga yang terserang Thrips akan keriting dan rontok, sedangkan daun yang terserang akan keriting menggulung ke atas.

Sebenarnya ada bahaya lain yang ditimbulkan oleh Aphis atau Thrips pada tanaman cabe yaitu adanya penularan penyakit virus, karena keduanya dapat berfungsi sebagai vektor pembawa virus penyebab keriting. Seperti kita ketahui, sampai saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh virus, sdangkan kerugian yang ditimbulkan dapat menurunkan produksi sampai
  70% bahkan bisa rugi total apabila serangannya berawal saat tanaman masih kecil.

Program pengendalian penyakit virus keriting pada cabe paling baik adalah dilakukan sejak pemilihan bibit dan sesegera mungkin mengendalikan hama yang menjadi vektor virus. Pestisida yang dipilih harus bersifat sistemik agar mampu menjangkau Aphids yang bersembunyi di bawah daun dan Thrips yang bersarang di bagian bunga dan pucuk tanaman. Salah satu insektisida yang dianjurkan untuk mengendalikan Aphis dan Thrips pada tanaman cabe adalah Winder 25 dan Winder 100. Kedua isektisida ini berbahan aktif imidakloprid masing-masing 25 % dan 10 %, bersifat racun kontak dan racun lampung yang sistemik sehingga mampu melindungi tanaman yang baru tumbuh dan mampu membunuh hama meski yang tersembunyi. Cara aplikasinya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penyiraman pada lubang tanam dan penyemprotan pada seluruh bagian tanaman


Rabu, 18 November 2015




Mengikuti dinamika paska tahun 2000-an kini dan memperlihatkan kebutuhan baru untuk kembali pada pola pertanian yang alami, dimana semuanya itu tidak tergantung pada bahan-bahan zat-kimiawi dan sejenisnya. Hal ini sejalan dengan perkembangan pemahaman masyarakat mengenai bahaya penggunaan bahan-bahan kimiawi dalam kandungan bahan pangan mereka. Selain itu, gerakan perubahan untuk mendorong pola-pola pertanian yang lebih memperhatikan kelestarian lingkungan hidup menjadi salah satu daya dorong bermunculan dan berkembangnya usahatani organik, mulai dari beras sebagai sumber pangan utama di banyak tempat di Indonesia, hingga holtikultura maupun produk-produk pertanian lainnya, tegas Nur Hady dalam pembukaan seminar di hotel Sofyan tebet dengan tema: “DARI PETANI LOKAL KE PASAR GLOBAL MODEL USAHATANI BERAS ORGANIK DI TASIKMALAYA DAN BOYOLALI” (Jakarta 10/13/2015).

Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis (pupuk kimia/pabrik, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan zat aditif lainnya) dengan tujuan untuk menyediakan produk-produk pertanian (terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan lingkungan serta menjaga keseimbangan lingkungan. Perkembangan pertanian organik juga didukung oleh pemerintah, diantaranya dengan mencanangkan Indonesia Go Organik sejak tahun 2001. Produksi beras organik sebagai salah satu produk pertanian organik, mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Perkembangan kondisi masyarakat menjadi salah satu faktor utama meningkatnya permintaan pada hasil pertanian organik, khususnya beras organik. Segmen pasar dari produk pertanian organik, termasuk beras organik yang utama berasal dari kalangan kelas menengah dan pasar luar negeri. Terbentuknya segmentasi ini juga berasal dari meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat pada kesehatan, yang mengalami pergeseran dari pengobatan penyakit pada bentuk pencegahan penyakit, yang salah satunya dilakukan melalui konsumsi bahan pangan organik. Dikarenakan produksi produk pertanian organik yang membutuhkan kekhususan menyebabkan harga produk pertanian organik, termasuk beras organik masih tinggi dan hanya terjangkau oleh kalangan kelas menengah.

Pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan dan upaya menghindari konsumsi bahan pangan yang terkontaminasi bahan kimiawi, menjadikan produk beras organik wajib memiliki sertifikasi khusus yang membuktikan hal tersebut. Dari aspek fisik produk akhir, sulit membedakan produk pertanian organik dengan yang bukan organik, karena itu diperlukan sebuah mekanisme sertifikasi yang dapat menjamin konsumen akhir bahwa produk yang mereka konsumsi adalah benar dikelola dan dihasilkan dari praktek budidaya pertanian organik. Indonesia sendiri sudah memiliki mekanisme sertifikasi yang dilandasi oleh Peraturan Menteri Pertanian No. 380 Tahun 2005 dan No. 297 Tahun 2007 tentang Otoritas Kompeten Pangan Organik.

Dari Otoritas Kompeten Pangan Organik ini dibentuk lembaga-lembaga sertifikasi organik, yang saat ini jumlahnya mencapai 7 (tujuh) Lembaga Sertifikasi Pangan Organik atau LSPO (Komite Akreditasi Nasional, 2015). 
Usahatani beras organik wajib memenuhi persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk membuktikan bahwa lahan pertanian yang digunakan tidak atau belum tercemar zat atau bahan kimia, akses pada sumber air yang baik dan juga tidak tercemar. Saat ini memang perkembangan usahatani beras organik masih tersifat tersebar dalam kelompok-kelompok petani di daerah yang memenuhi persyaratan.

Pertanian organik di Indonesia sebagaimana terekam dalam beberapa hasil penelitian dan dari media massa adalah di Provinsi Sumatera Barat yang telah berjalan sejak 1997/1998, kemudian di Jember Jawa Timur sejak tahun 2001, Kabupaten Sleman Yogyakarta sejak 2009, dan juga di wilayah Kabupaten Boyolali Jawa Tengah dan Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat (lihat Widodo, YB, dkk, 2012). Berdasarkan latar belakang tersebut, Aliansi Petani Indonesia (API) bersama dengan para peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI) mencoba memotret gambaran model-model usahatani, khususnya beras organik di beberapa daerah yang dianggap telah berhasil mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mendorong usahatani beras organik. Dari sini kemudian API bersama LIPI melakukan studi mendalam di dua wilayah usahatani berbasis padi organik seperti pada Gapoktan Simpatik di Tasikmalaya, Jawa Barat dan Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI) di Boyolali, Jawa Tengah dapat menjadi contoh dan “peta jalan” bagi penguatan usaha tani padi Indonesia di masa depan.

Secara organisasi, usahatani SIMPATIK maupun APPOLI telah melakukan pengorganisasian produksi melalui konsolidasi lahan produktif dengan menerapkan kontrol internal baik pada level produksi maupun penanganan paska panen dan pemasaran. Metode penanaman, pemilihan benih hingga pemupukan, irigasi hingga paska panen dikelola secara sistematis dan terukur. Pada komoditi beras, kedua organisasi usaha tani tersebut juga menerapkan kontrol yang ketat melalui penggunaan ternologi penggilingan sendiri, hingga didapatkan hasil sesuai standard kualitas yang diinginkan, serta didukung dengan berbagai sertifikasi baik nasional maupun internasional, untuk memudahkan produk beras oragnik tersebut meluncur ke pasar dengan harga yang baik.

Saat ini kedua organisasi usaha tani tersebut telah mampu menembus pasar internasional, baik asia seperti Malaysia, Singapore, Brunei serta Negara-negara Eropa seperti Belgia, Belanda dan Jerman.

Dari gambaran model-model usaha tani ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi Petani, Kelompok Petani, Koperasi Petani, pemerintah daerah dan pemerintah ataupun masyarakat lainnya untuk memahami usahatani beras organik.


Mendapatkan masukan dari berbagai pihak atas temuan lapang selama proses penelitian “Dari Petani Lokal Ke Pasar Global Model Usahatani Beras Organik Di Tasikmalaya Dan Boyolali”, sehingga dapat melengkapi gambaran usahatani beras organik mulai dari proses persiapan kelompok petani, proses penataan lahan, proses tata produksi, dan penanganan paska panen yang efektif sehingga mengurangi kerugian dan meningkatkan keuntungan bagi petani.


Jumat, 13 November 2015

mentanptntf



Lampung (12/11) Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, menyambangi kebun buah seluas 3.700 hektar saat blusukan ke Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Di kebun milik PT. Nusantara Tropical Farm (NTF) itu, Mentan sempat berkeliling serta melepas ekspor nanas dan pisang untuk tujuan Amerika Serikat (AS) hingga China.
Mentan beserta rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB di lokasi dan disambut pemilik PT NTF, Budi Setiawan. Kemudian, rombongan disuguhkan aneka buah seperti, pisang, nanas, pepaya, jambu kristal dan buah naga.
Sambil menikmati sajian buah, Mentan sempat bertanya kepada pemilik NTF.
“Ini luas lahannya berapa, dan buah yang diekspor apa saja,” tanya Mentan ke Budi, di kantor PT NTF, Way Kambas, Lampung Timur, Lampung, Rabu (11/11/2015).
Lalu, Budi menjelaskan kepada Mentan, kebun NTF berdiri sejak 1993 dan luasnya mencapai 3.700 hektar.
“Kami tanam pisang, jambu kristal, nanas segar, buah naga, dan pepaya. Pisang dan nanas sudah kami ekspor rutin dalam jumlah besar. Kita sedang kembangkan terus pembibitannya dan akan perluasan lahan lagi,” terang Budi.
Selain itu, Budi mengatakan, pada 2014 lalu, produksi nanas mencapai 513,58 ton nanas segar. Ekspor nanas kaleng mencapai 9.021 kontainer dan konsentrat nanas sebanyak 1.629 kontainer. Total ekspor pada 2014 mencapai 10.650 kontainer.
Kemudian, produksi 2015 meningkat menjadi 514.750 ton nanas segar. Ekspor nanas kaleng mencapai 9.535 kontainer dan konsentrat sebanyak 1.622 kontainer. Total sudah mengekspor 11.417 kontainer. Selain itu, juga mengekspor nanas dan pisang ke beberapa negara diantarsnya Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa, Timur Tengah, Jepang, China, dan Australia.
Seusai dialog, rombongan Mentan kemudian diajak berkeliling kebun pisang dan nanas. Mentan juga berkesempatan melihat proses pasca panen. Tandan pisang sama sekali tidak menyentuh tanah. Tiap tandan pisang diproses dengan steril dan sangat teliti. Kotoran dibersihkan dari tiap sisir pisang. Pisang disortir tiap sisirnya lalu dikemas dalam kotak kardua. Di akhir proses sudah siap tiga unit kontainer besar yang dilengkapi pendingin untuk mengangkut pisang untuk diekspor. 
(Sumber: www.detik.com)

JambuKristal



Persyaratan Tumbuh Jambu kristal (Crystal) merupakan mutasi dari jambu Muangthai Pak, ditemukan pada tahun 1991 di District Kao Shiung – Taiwan dan diperkenalkan di Indonesia oleh Misi Teknik Taiwan. Jambu kristal memiliki beberapa keistimewaan antara lain berbuah sepanjang tahun, memiliki jumlah biji kurang dari 3% bagian buah, lapisan lilin yang tebal, bobot buah optimum 500 g/buah, dan tekstur buah yang renyah. Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam pemilihan/penetapan lokasi pertanaman jambu kristal adalah sebagai berikut :

Iklim
Tanaman jambu kristal dapat tumbuh di daerah dengan intensitas curah hujan antara 2.000 – 3.000 mm/tahun dan dapat tumbuh, berkembang dan berbuah dengan optimal pada suhu sekitar 20o – 30oC di siang hari.
Media Tanam
Tanaman jambu kristal dapat tumbuh baik pada lahan yang subur dan gembur dengan derajat keasaman tanah (pH), yaitu antara 6 – 6,5 serta berdrainase baik.
Ketinggian Tempat
Tanaman jambu kristal dapat tumbuh baik pada ketinggian antara 5 – 1.000 m dpl 1.2. Sentra PengembanganSentra pengembangan jambu Kristal ada di Bengkulu (Bengkulu Utara), Jawa Barat (Depok, Majalengka, Bogor, Kuningan, Subang, Sukabumi, Sumedang), DI. Yogyakarta (Gunung Kidul), Papua (Kota Jayapura), dan Papua Barat (Manokwari).
(Sumber : ePetani, Penulis : Dodi Kurniawan (Dit. Budidaya dan Pascapanen Hortikultura)

Kamis, 12 November 2015

video

Rabu, 11 November 2015


Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) M.S. Sembiring mengatakan, rata-rata petani di Indonesia hanya mengantongi Rp 200 ribu per bulan, angka yang sangat kecil dibanding dengan harga bahan pokok yang terus meroket.

“Petani merupakan  profesi yang banyak ditinggalkan penduduk Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat pada tahun 2003 masih ada 31 juta rumah tangga usaha tani. Satu dekade kemudian, jumlahnya merosot jadi 26,5 juta,”kata sembiring dalam siaran pers yang dikirim ke Flobamora.net, Jumat (16/10) bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia tahun 2015.

Menurut dia,  mengutip pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada awal Maret lalu, minat warga Negara Inodnesia menjadi petani turun karena penghasilannya yang sangat minim.

Dia menjelaskan, penurunan jumlah petani itu berpotensi mengganggu target swasembada beras sebesar 73,4 juta ton gabah kering giling. Tapi, apakah petani harus menggantungkan mata pencahariannya terhadap beras semata?

“Rata-rata petani sawah di Indonesia mempunyai lahan garapan sekitar 0,3 hektar. Sudah saatnya petani di Indonesia berdaya,” ujarnya.
Dia menuturkan, petani sebagai soko pangan di Indonesia perlu mendapatkan perlindungan agar kehidupannya lebih baik.

Kata dia, Badan Pangan dan Pertanian dunia (FAO) menggarisbawahi nasib petani dalam hari pangan sedunia yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober. Tahun 2015 ini, tema haripangan sedunia “Perlindungan Sosialdan Pertanian: memutus siklus kemiskinan di pedesaan”. Adapun untuk Indonesia temanya adalah “Pemberdayaan Petani Sebagai Penggerak Ekonomi Menuju Kedaulatan Pangan.”

Sementara Puji Sumedi, Program Officer untuk Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI menyatakan ada tiga kata kunci dalam tema hari pangan tahun ini. “Pemberdayaan Petani, Penggerak Ekonomi dan Kedaulatan Pangan,” ujarnya.

Dia menguraikan, memulai dari pemberdayaan petani, bisa dirujuk data-data dari Badan Pusat Statistik tentang nasib petani. Data sudah bicara bahwa profesi petani tak lagi menjadi pilihan utama generasi muda. Tetapi, semacam kewajiban turun temurun atau memang tak ada lagi pilihan pekerjaan yang lain.

Di Indonesia, tambahnya, nasib petani seakan tak berjamin. Jika gagal panen dan lahan tergadai, pemerintah belum bisa mengulurkan tangannya. Setidaknya angin sejuk sudah berhembus mulai pekan pertama Oktober 2015. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan mulai pekan ini, petani yang gagal panen biasa mendapatkan uang santunan asuransi pertanian.

“Kebijakan tersebut berlaku, lantaran dana premi asuransi sebesar Rp 150 miliar kepada Asuransi Jasindo sebagai penyelenggara asuransi pertanian sudah dicairkan,” kata Puji.
Puji menambahkan, langkah positif tersebut perlu dukungan dari internal petani. Artinya, petani juga harus cerdas dan inovatif sesuai dengan kondisi geografis dan iklim setempat.
puji mencontohkan untuk petani di Nusa Tenggara Timur yang kering, lebih membutuhkan teknik pertanian dengan memanfaatkan sedikit air yang bisa tumbuh subur di lahan kering. Sehingga diharapkan petani bisa tetap mendapatkan pendapatan, tanpa tergantung dengan musim. Kesejahteraan petani akan membuat profesi ini berkelanjutan, karena generasi muda melihat menjadi petani adalah profesi yang menjanjikan. Merujuk pada kata kunci kedua, bahwa pemberdayaan petani sebagai penggerak ekonomi pun bisa terwujud.

Kata kunci terakhir adalah kedaulatan pangan. Undang-Undang Pangan No 18 Tahun 2012 sudah mendefinisikan kedaulatan pangan dalam pasal satu ayat 2.
Kedaulatan Pangan adalah hak Negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan pangan yang menjamin hak atas pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal. Definisi tersebut menegaskan posisi pangan lokal. Sayang, menurut Puji, kedaulatan pangan belum ditanggapi serius oleh pemerintah.

Bukti nyata adalah target swasembada pangan. Bisa dilihat jumlah yang harus dicapai hanya berkutat pada varietas padi, jagung dan kedelai (pajale). Padi dengan 73,4 juta ton gabah kering giling, jagung sejumlah 20 juta ton dan kedelai sebanyak 2, 5 juta ton.  “Idealnya sumber swasembada pangan itu tidak hanya diukur dari pajale, sesungguhnya potensi pangan Indonesia sangat kaya,” ujar Puji.
Sebagai umat beragama, menurut Puji, kita patut bersyukur kepada Tuhan yang menciptakan berbagai jenis pangan di bumi. Caranya adalah memanfaatkannya dengan baik untuk kehidupan masyarakat di Indonesia. “Ini adalah dasar yang paling sederhana untuk jadi landasan kebijakan,” kata dia.

Di samping berbagai alasan lain baik secara ilmiah maupun secara aspek sosial dan budaya sesungguhnya melestarikan anugerah keragaman pangan di Indonesia adalah suatu sikap yang bijak. Pelestarian tersebut terwujud dalam penanaman kembali sumber pangan lokal dan mengomsumsinya kembali.

KEHATI berjuang dan mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai salah satu sumber kedaulatan pangan yang tertuang dalam rencana strategis 2013-2017. Kepedulian terhadap potensi pangan di Indonesia juga masuk dalam empat tema utama program KEHATI yaitu Pangan, Energi, Kesehatan dan Air.

Dukungan KEHATI terhadap pemanfaatan sumber pangan lokal oleh petani bisa dilihat di kawasan Flores Timur dengan pemberdayaan petani pangan lokal. Di Sulawesi Utara, tepatnya di Pulau Sangihe, KEHATI juga mengajak petani untuk kembali bercocok tanam yang lestari untuk komoditas rempah dan sagu. Begitu pula yang KEHATI lakukan bersama para petani di Yogyakarta dengan memanfaatan aneka umbi




Potensi bisnis jahe merah semakin mendapatkan tempat di mata konsumen. Meski khasiat jahe sudah dikenal sejak bertahun-tahun yang lalu, trend produksi obat herbal turut memberikan andil populernya olahan dari jahe. seperti yang sudah banyak diketahui olahan jahe mampu memberikan efek yang baik bagi tubuh manusia diantaranya menambah stamina dan vitalitas tubuh. Salah satu jenis jahe yang sering dibudidayakan adalah jahe merah atau yang disebut dengan Jahe Sunti. Ciri dari Jahe ini adalah rimpangnya kecil,warnanya kuning kemerahan, seratnya kasar, rasanya sangat pedas dan aroma yang sangat tajam.
Untuk menghasilkan produksi Jahe Merah yang baik diperlukan tanah yang banyak mengandung bahan organik atau humus dan drainase yang baik. Jahe merah sangat cocok ditanam pada daerah yang beriklim sejuk dengan ketinggian 500-100 m dpl. Meski demikian sebenarnya Jahe Merah bisa juga tumbuh dan berkembang pada dataran rendah.
Cara Menanam Jahe Merah
Pada umunya Tanaman jahe diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan rimpang. Sebelum Jahe Merah ditanam terlebih dulu disiapkan lahan dengan membuat bedengan pada lahan yang dibentuk dengan lebar 80 – 100 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan, jarak antar bedengan 40 – 50 cm. Pada bedengan dibuat alur sedalam 10 – 15 cm sebagai lubang tanam kemudian bibit ditanam sedalam 3 – 5 cm dengan tunas menghadap ke atas. Setelah tanam dapat diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun pisang terutama pada daerah-daerah yang penyinarannya cukup tinggi.
Setelah tanaman Jahe merah ditanam, taham selanjutnya adalah tahap pemeliharaan. Pemeliharaan meliputi penyulaman untuk mengganti tanaman jahe yang tidak tumbuh atau perkembangannya kurang baik. Langkah lain adalah penyiangan tanaman jahe merah,agar tidak terganggu oleh gulma. Penyiangan sangat penting dilakukan pada 3 bulan pertama.
 Pada usia satu bulan setelah tanam, pemupukan jahe merah perlu dilakukan dengan pupuk urea dan KCL. Jumlah pemupukan urea 400 kg/ha dan KCL 300 kg/ha. Pada saat usia jahe merah 3 bulan dilakukan pemupukan kembali dengan urea 400 kg/ha.
Panen Jahe Merah
Tanaman jahe umumnya dipanen tua setelah berumur 8 – 10 bulan saat kadar oleoresin optimum ditandai dengan rasa pedas dan bau harum. Khusus untuk jahe gajah bisanya dipanen disesuaikan dengan tujuan pemanfaatannya. Kemampuan produksi budidaya jahe jahe merah dan jahe emprit adalah 10 – 15 ton / ha.


Senin, 09 November 2015


Kelengkeng adalah salah satu komoditas tanaman buah yang pada dasarnya telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia..

Kelengkeng yang dahulu hanya dapat dibudidayakan di dataran tinggi dengan terciptanya varietas-varietas kelengkeng baru kini kelengkeng dapat dibudidayakan di dataran rendah dengan pola budidaya yang baik dan benar...
Untuk pada kesempatan kali ini kami mencoba berbagi cara budidaya kelengkeng

1. Persiapan Lahan

Lahan yang akan ditanami oleh kelengkeng dibersihkan dahulu. dibebaskan dari tanaman keras yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman kelengkeng akibat perebutan unsur hara dan sinar matahari

2. Pembuatan lubang tanam

Lubang tanam kelengkeng dibuat sedalam 70x70x70 cm untuk tanah gembur dan 100x100x100 cm untuk tanah keras. dengan jarak tanam 7x7m tanah galian lubang diletakkan di samping kiri dan kanan lubang dan dipisahkan antara lapisan tanah atas dan tanah bawah. agar lebih mudah dalam pencampuran pupuk dasar


3. Pengaplikasian pupuk dasar

Lubang yang telah dibuat tadi dibiarkan 1 minggu hal ini dilakukan untuk menurunkan derajat keasaman tanah dan membunuh bakteri patogen. setelah lubang dibiarkan terbuka selama 1 minggu campurkan 25 kg pupuk kompos, 2 kg pupuk npk, dan 2 kg kapur dolomit dengan tanah galian kemudaian masukkan tanah yang telah dicampur tadi. lapisan tanah atas di kembalikan ke dasar lubang tanam dan lapisan tanah bawah dimasukkan kemudian, biarkan sekitar 2-3 hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan bakteri tanah unatuk melakukan dekomposisi pupuk.

4. Persiapan Bibit Tanaman

Pilih bibit tanaman yang sehat dan memiliki cabang yang kompak. pilih bibit yang berusia 1-1,5 tahun dan bebas dari penyakit. sebelum proses penanaman dilakukan proses karantina selama 1 minggu hal ini dilakukan untuk adaptasi tanaman dengan agroklimaks setempat. selama proses karantina tanaman cukup disisram 1 hari 2 kali


5. Penanaman

Setelah 2-3 minggu lubang tanam dibiarkan melakukan proses dekomposisi barulah tanaman kelengkeng ditanam dengan membuat koakan di titik tanam. usahakan dalam menanam bibit tanaman okulasi mata okulasi menghadap ke timur dan berjarak 15 cm dari permukaan tanah. hal ini bertujuan untuk menghindari timbulnya jamur pada mata okulasi. penanaman harus sedikit ditinggikan agar air tidak menggenang.

6. Pembuatan petak personal

Petak personal dibuat seluas 2x2 m petak personal tanaman dibuat sebagai drainase dan area bebas gulma serta area penahan konsentrasi pupuk yang akan diaplikasikan, jaga agar petak personal bersih dan bebas dari gulma

7. Pemupukan

Pemupukan dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan dosis 2sendok makan npk dan 2sendok makan instan green


8. Pengendalian hama penyakit

Untuk pengendalian hama penyakit sebagai usaha preventif dilakukan 1 bulan sekali dengan pestisida dan fungisida dengan dosis 10ml per tangki sprayer pemberian perekat dengan sedikit menambahkan detergen cair. aplikasi pada pagi hari dan sore hari hindari aplikasi pada siang hari dan pada saat matahari terik
Pengamatan rutin dilakukan agar mengetahui hama dan penyakit yang menyerang. Pada saat pengobatan pengaplikasian dilakukan 1 minggu sekali sampai tanaman sehat kembali

9. Pemberiaan Booster

Pemberian booster dilakukan untuk memacu tanaman kelengkeng berbuah pengaplikasian booster dilakukan pada usia tanaman 1 tahun dari penanaman dengan dosis 250ml per tanaman dengan cara dikocorkan ketanaman. umumnya tanaman akan berbuah setelah 6 bulan dihitung dari tanggal pengaplikasian. pemberian booster dilakukan setiap 9 bulan sekali dan tiap pengaplikasian dosis booster dinaikan 2 kali lipat


10. Perawatan bunga dan buah

6 bulan setelah pengaplikasian booster biasanya tanaman akan memasuki fase inisiasi bunga dilakukan perawatan dengan menyemprotkan pestisida,fungisida setengah dosis dan 1 sendok makan larutan instan blue buah/gandasil buah pengaplikasian dilakukan 2 kali yaitu pada saat fase tanaman berbunga dan ketika bunga sudah menjadi buah. pada penyemprotan ke 2 sekaligus dengan memasang jaring-jaring pada setiap gerombolan buah.


11. Panen dan Pasca Panen.

Panen terjadi pada usia 3-4 bulan terhitung dari fase tanaman berbunga. pemanenan dilakukan dengan memangkas pucuk dahan dengan gunting panen usahakan agar pemotongan rapi untuk memperbanyak tunas yang tumbuh dan menghindari munculnya jamur dan bakteri pada bekas pemotongan




Sabtu, 07 November 2015

Budidaya Cabe Rawit



Cabe rawit dapat ditanam di lahan mana saja seperti lahan sawah, tegalan, dan tempat yang terlindungi oleh pepohonan sekalipun asalkan pesyaratan tumbuhnya terpenuhi. Penulis memang tidak membudidayakan secara besar-besaran seperti halnya petani sayuran lain yang membudidayakan cabe biasa, melainkan “hanya” menggunakan lahan produktif yang ada yaitu sekitar 1000 populasi (batang) saja. Populasi ini lebih sedikit dibandingkan beberapa waktu lalu yang hingga mencapai 4000 populasi. Meskipun hanya berkisar 1000 batang, penggunaan mulsa plastik hitam perak (HP) merupakan sesuatu yang penting. Sebagai perbandingan, untuk populasi 4000 batang, kami menggunakan kurang lebih 40 Kg mulsa plastik ukuran standar.


Pilih Benih

Budidaya Cabe Rawit diawali dengan pemilihan benih. Pemilihan benih merupakan langkah awal yang sangat penting. Karena bila kita memilihi benih yang tidak baik, tentu saja hasilnya pun tidak baik pula. Bibit atau benih cabe harus sudah tersedia terlebih dahulu sebelum kita mulai mengerjakan lahan. Benih cabe rawit dapat diperoleh dari toko pertanian setempat baik berupa varietas lokal, OP maupun hibrida. Pemilihan benih lokal, OP maupun hibrida tergantung pada petani itu sendiri. Namun akan lebih bagus dan lebih prima hasilnya bila kita menggunakan benih hibrida atau OP yang unggul yang ada dipasaran. Mengapa? Pengalaman telah menunjukkan bahwa hasil produksi benih hibrida atau veritas OP yang unggul jauh lebih baik dibandingkan varietas lokal. Tidak hanya dari hasil saja, keunggulan cabe rawit unggul dan hibrida dapat dilihat dari vigor, kesaragaman tanaman serta ketahanannya terhadap penyakit yang menunjukkan hasil yang lebih baik. Untuk jenis OP, kita dapat memilih benih cabe rawit seperti varietas Cakra Hijau atau juga Cakra Putih. Khusus untuk Cakra Hijau, dari pengalaman yang pernah kami dapat menun-jukkan bahwa cabe rawit ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun tinggi, lebih tahan dari gangguan hama dan penyakit, serta dapat dipanen pada umur 80 – 90 hari setelah tanam. Pertimbangan pemilihan varietas Cakra Hijau juga dipengaruhi oleh cukup banyaknya peminat cabe rawit ini baik dari propinsi Riau maupun negara tetangga karena pedasnya yang luar biasa. Saat ini harga jual cabe rawit tersebut (Bulan Januari 2003-red) mencapai Rp. 15.000,-/Kg. Bahkan bisa lebih dari itu.


Persemaian

Benih cabe yang kita pilih disemaikan seperti halnya cabe besar. Kami melakukan penyemaian dengan menaburkan benih-benih tersebut di atas tanah yang telah dibuat bedengan dengan rapi, dan berderet. Untuk pembibitan digunakan bumbungan yang dibuat dari kertas pembungkus nasi. Karena masa tumbuh cabe rawit lebih lama dari cabe merah biasa, maka sebelum benih ditabur benih sebaiknya direndam terlebih dahulu kira-kira satu hingga dua hari untuk kemudian diperam (dikecambahkan) dengan membungkusnya dengan kain yanag sudah dibasahi dengan air.


Setelah tumbuh radikula (calon akar), barulah benih ditaburkan ke lahan yang telah disiapkan sebelumnya. Agar bibit cabe tidak berhimpitan yang diakibatkan daunnya yang melebar, maka saat penebaran disarankan tidak berdekatan antara benih yang satu dengan yang lain. Untuk itulah penggunaan polybag baik dari plastik, daun pisang maupun yang lainnya sangat dianjurkan. Setelah benih berumur kurang lebih satu hingga satu setengah bulan, yang dicirikan dengan munculnya 4 daun sempurna tanaman cabe, bibit kemudian dipindahtanamkan ke lahan penanaman.


Penanaman

Jarak tanam antara tanaman sebaiknya digunakan 60 – 70 cm dengan jarak antar bedengan 75 cm. Penggunaan jarak yang terlalu rapat akan menyebabkan pertumbuhan tanaman cabe satu sama lain akan berhimpitan, apalagi tanaman cabe rawit memiliki struktur kanopi yang lebih lebar. Tanaman cabe rawit tidak perlu dilakukan perempelan (pembuangan tunas-tunas). Hal ini karena tunas tersebut akan menjadi calon ranting maupun cabang, Semakin banyak cabang atau rantingnya maka semakin baik, karena batang/cabang merupakan tempat tumbuhnya bunga dan buah sehingga semakin banyak pula buah cabai yang akan kita peroleh.

Pemupukan

Peranan pupuk kandang sangat dominan dalam budidaya cabe rawit ini. Pupuk kandang dapat menggunakan kotoran ayam ras.buras, itik, sapi, atau kerbau. Pupuk kandang yang kami gunakan kotoran ayam yang sudah kering adalah sekitar 500 – 700 gram /tanaman. Jadi, untuk populasi 1000 tanaman, menghabiskan pupuk kandang kurang lebih 500 – 700 Kg. Selain menggunakan pupuk organik, pemberian pupuk buatan sangat perlu untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Adapun pupuk buatan yang digunakan pada budidaya cabe rawit adalah urea dengan pupuk NPK Grand-S 15 perbandingan 2 : 1. Dosis pupuk yang digunakan kurang lebih 75 – 80 gram per tanaman. Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar yang ditaburkan di bagian kiri dan kanan bedengan. Sedangkan pupuk buatan ditaburkan di bagian tengah bedengan. Setelah penebaran pupuk selesai, bedengan kemudian ditimbun kembali dengan tanah yang diambil dari bagian samping bedengan hingga tertutup dengan ketebalan 2 – 3 cm. Sebagai pengganti Grand - S 15 , dapat juga digunakan pupuk tanigro ditambah Grand-K. Bedengan yang telah ditaburi pupuk kemudain ditutup dengan mulsa HP, dibiarkan kira-kira dua hingga tiga hari untuk kemudian bibit cabai ditempatkan pada setiap lubang tanam yang sudah dibuat sebelumnya. Pertumbuhan cabe rawit akan tampak baik penampilan maupun vigornya pada umur 10 – 15 hst terlebih bila menggunakan bumbungan saat pembibitan.


Hama dan penyakit yang seringkali menyerang cabe rawit adalah ulat daun, kutu daun serta penyakit bercak daun. Pengendalian HPT pada tanaman cabe rawit relatif lebih ringan dibandingkan cabe besar. Untuk mengendalikan serangan ulat, dapat digunakan insektisida biologis seperti Turex WP, sedangkan untuk mengendalikan kutu daun dan thrips dapat digunakan insektisida Winder 25WP atau Winder 100EC. Sedangkan pengedalian penyakit seperti bercak daun dapat dikendalikan dengan Kocide 54WDG atau Victory 80WP. Pemakaian pestisida tersebut dapat dicampur sesuai dosis anjuran yang ada.


Setelah tanaman berumur kira-kira 80 – 90 hari, buah cabe sudah dapat dipetik. Karena varietas cakra hijau ini buahnya kecil dengan warna hijau yang mirip daun, maka pemanenan harus ekstra hati-hati sehingga jangan sampai ada yang luput dari pemetikan (pemanenan). Berdasarkan pengalaman, cabe rawit dapat dipanen minimal 15 kali bahkan bisa sampai 18 kali. Tergantung situasi dan kondisi tanah, vareitas serta lingkungan yang menunjang. Penggunaan ulang pupuk yang sama dengan dosis setengahnya dari dosis awal ditenggarai dapat memperpanjang masa panen cabe rawit 2 – 3 kali lagi.



.


Kamis, 05 November 2015

Teknik dan Cara Mudah
Budidaya Buah Naga

Teknik dan Cara Mudah Budidaya Buah Naga yang Menguntungkan

Melihat bentuk buah naga yang unik, dan punya rasa manis yang khas sepertinya menarik sekali. Bagaimana jika mencoba untuk budidaya buah naga…? kali ini kita akan berbagi mengenai teknik serta cara budidaya tanaman buah naga. Selamat menyimak.

Pengawasan dan Persiapan Lahan buah Naga
Siapkan terlebih dahulu tiang penopang untuk tegakan tanaman, karena tanaman ini tak memiliki batang primer yang kuat. Bisa kita gunakan tiang dari kayu atau beton dengan ukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 meter, yang ditancapkan ke tanah sedalam 50 cm. Ujung bagian atas dari tiang penyangga tersebut diberi besi yang berbentuk lingkaran untuk penopang dari cabang tanaman.
Sebulan sebelum tanam, terlebih dahulu dibuatkan lubang tanan dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan jarak tanam 2 m x 2,5 m, sehingga dalam 1 hektar terdapat sekitar 2000 lubang tanam penyangga pada tiap tiang/pohon penyangga itu dibuat 3 sampai 4 lubang tanarn dengan jarak sekitar 30 cm dari tiang penyangga. Lubang tanam tersebut lalu diberi pupuk kandang yang masak sebanyak 5 sampai10 kg dicampur dengan tanah.

Persiapan untuk bibit dan penanaman buah naga
Buah naga bisa kita perbanyak dengan cara: Stek & Biji. Biasanya ditanam dengan stek dibutuhkan bahan batang tanaman dengan panjang 25 hingga 30 cm yang ditanam dalam polybag dengan media tanam berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Kemudian setelah bibit berumur 3 bulan bibit siap dipindah atau ditanam.

Pemeliharaan buah naga
Pengairan Buah Naga. Pada tahap awal pertumbuhan, pengairan dilakukan 1 sampai 2 hari sekali. Pemberian air berlebihan akan menyebabkan terjadinya pembusukan.
Pemupukan. Pemupukan tanaman diberikan pupuk kandang, dengan interval pemberian 3 bulan sekali, sebanyak 5 sampai10 Kg.
Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Uniknya dari penanaman buah naga ini adalah belum ditemukan adanya serangan hama dan penyakit yang potensial. Pembersihan lahan / pengendalian gulma dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.
Pemangkasan Buah Naga. Batang utama (primer) dipangkas, setelah tingginya mencapai tiang penyangga yakni sekitar 2 m, dan ditumbuhkan 2 cabang sekunder, lalu dari masing-masing cabang sekunder dipangkas lagi dan ditumbuhkan 2 cabang tersier yang berfungsi sebagai cabang produksi.
Panen Buah Naga. Setelah tanaman berusia 1,5 hingga 2 tahun, mulai berbunga dan berbuah. Pemanenan pada tanaman buah naga dilakukan pada buah yang memiliki ciri-ciri warna kulit merah mengkilap, jumbai/sisik berubah warna dari hijau menjadi kemerahan. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan gunting, buah sudah bisa dipanen saat buah mencapai umur 50 hari terhitung sejak bunga mekar dalam 2 tahun pertama.
Budidaya buah naga ini sepertinya tidak sulit, namun butuh waktu lama jika ingin menikmati buahnya. Selamat berkebun.


Rabu, 04 November 2015

Asuransi Pertanian

Pemerintah ingin memberikan perlindungan lebih kepada para petani. Salah satu cara yang yang dilakukan adalah dengan memberikan asuransi pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berharap, pemberian asuransi pertanian tersebut dapat berjalan pada tahun ini.
"Mudah-mudahan tahun ini," kata dia di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (6/8/2015). Amran bersikeras agar asuransi tersebut dapat segera terealisasi. Hal ini untuk melindungi para petani dari risiko seperti gagal panen.
"Kalau saya maunya lebih cepat. Petani bisa menikmati asuransi," tambahnya.
Sebelumnya, Amran menjelaskan untuk asuransi tersebut pemerintah akan menyiapkan anggaran subsidi premi asuransi pertanian sebesar Rp 150 miliar. "Untuk asuransi pertanian ada Rp 150 miliar, akan mulai jalan tahun ini," katanya.
Pada tahap awal, lanjut dia, asuransi ini hanya diperuntukan bagi pertanian tiga komoditas pangan utama, yaitu padi, jagung, dan kedelai. Dengan adanya asuransi ini diharapkan ada jaminan bagi para petani dalam proses produksi ketiga komoditas tersebut.
"Khusus untuk padi, jagung, dan kedelai. Tapi kita akan kembangkan. Teknisnya ada di Dirjen (Direktur Jenderal)," tuturnya.
Sementara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan para petani Indonesia akan memperoleh akses asuransi pertanian mulai tahun depan. Hal ini sejalan dengan kebijakan regulator industri keuangan itu untuk meningkatkan akses para petani ke sistem keuangan.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Non-Bank OJK, Firdaus Djaelani mengungkapkan, pemerintah pusat telah menganggarkan subsidi premi asuransi pertanian sebesar Rp 150 miliar di 2016. (Amd/Gdn)
PERTANIAN berkelanjutan adalah gerakan pertanianmenggunakan prinsip ekologi, studi hubungan antara organisme dan lingkungannya (Rural Science Graduates Association, UNE, 2002). Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kita telah belajar tentang rantai makanan, di mana semua makhluk itu saling berkaitan dan hidup berdampingan. Satu mata rantai makanan punah, maka akan mengganggu keseimbangan ekosistem lainnya.

Mari kita lihat kasus keberadaan tikus di sawah, binatang penggerat ini, sebelumnya bukanlah hama,melainkan makhluk Allah yang berhak hidup, berhak makan dan berhak berkembang dan populasinya tetap berada pada level keseimbangan, karena predatornya yakni Burung Hantu masih berada dalam populasi stabil.

Seiring dengan waktu bergulir dan pola kehidupan masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan pribadi tanpa memperhatikan habitat makhluk lain, jumlah populasi burung hantu semakin menurun dan bahkan bisa dibilang hampir punah. Alhasil, tikus semakin berkembang karena predatornya (burung hantu) telah punah. Berubahlah status tikus dari makhluk ciptaan Allah, menjadi hama tidak penting dan kemudian menjadi hama penting/utama.

Dan kemudian apa yang dilakukan manusia dengan segala keterbatasan pengetahuannya, lahirlah kebijakan di mana Dinas Pertanian dan Badan Penyuluhan (Bapeluh) mengintruksikan untuk membunuh tikus tanpa ada kajian dari keseimbangan ekologi-konsep PHT berupa:
(1) memasukkan asap ke liang sarang tikus, sehingga tikus mati karena sarangnya dipenuhi asap.
(2) meledakkan sarang tikus, sehingga tikus mati di dalam sarang akibat hulu ledak yang dihasil. Tindakan inilah yang saya sebut “kecerdasan moral” manusia sudah kritis dan menganggap makhluk selain manusia harus dimusnahkan.

Perlu diperhatikan pada kasus tikus, yang perlu diperhatikan adalah agroekosistem, di mana habitat Burung Hantu tetap terjaga sebagai predator tikus, saling ketergantungan satu mahkluk dengan makhluk lain adalah konsep dasar dalam kegiatan/usaha tani pertanianberkelanjutan. Ketika populasi tikus meningkat, maka meningkat pula populasi burung hantu. Ketika populasi tikus menurun, maka ikut menurun pula populasi burung hantu dan begitu seterusnya. Itulah kondisi keseimbangan alam sebagai komponen utama dalam pertanian berkelanjutan.
Perlu kita ingat satu firman Allah Swt dalam Alquran: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)

Hanya keterbatasan ilmulah kemudian manusia membuat kerusakan di muka bumi ini, sebagaimana firman-Nya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (kejalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Pertanian berkelanjutan telah didefinisikan sebagai sebuah sistem terintegrasi antara praktik produksi tanaman dan hewan dalam sebuah lokasi dan dalam jangka panjang memiliki fungsi sebagai berikut (Gold, M. United States Department of Agriculture, 2009): Memenuhi kebutuhan pangan dan serat manusia; Meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya alam berdasarkan kebutuhan ekonomi pertanian; Menggunakan sumber daya alam tidak terbarukan secara sangat efisien; Menggunakan sumber daya yang tersedia di lahan pertaniansecara terintegrasi, dan memanfaatkan pengendalian dan siklus biologis jika memungkinkan; Meningkatkan kualitas hidup petani dan masyarakat secara keseluruhan.

Tanpa menjaga keseimbangan alam, mustahil penggunaan musuh alami dalam mengelola organisme pengganggu tanaman (OPT) akan berhasil, karena musuh alami membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai dengan perkembangan populasinya. Kecerdasan moral dalam mengambil sebuah kebijakan akan menghasil tindakan yang tidak merusak/mengganggu ekosistem alam. Siapa yang salah ketika kawanan Gajah merusak kebun sawit? Apakah gajah yang salah atau manusia, yang membuka ribuan hektar kebun sawit, sehingga habitat gajah terganggu. Manusia hanya memikirkan keuntungannya saja, tanpa mempertimbangkan kelangsungan hidup hewan lain.
Kearifan lokal setiap daerah/gampong, sudah memiliki kearifan lokal atau adat istiadat secara turun-temurun, tapi karena tidak pernah tertulis, dari waktu ke waktu, kearifan lokal hilang sendiri, tenggelam oleh budaya luar. Padahal kearifan lokal itu memiliki kekuatan hukum yang mengikat penduduk setempat.
Aceh Selatan, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir mulai menggali kembali kearifan lokalnya. Hal ini terkait dengan langkanya dan bahkan hampir punahnya burung pemakan ulat penggerak batang pala. Ulat penggerek batang pala ini menjadi hama penting selain penyakit akar putih (JAP) pada tanaman pala. Predator ulat tersebut adalah burung Murai Batu, Murai Gampong dan Cempala. Harga ketiga burung tersebut sangatlah mahal, sehinggal masyarakat terus memburu burung tersebut. Alhasil, ulat penggerek batang pala terus bertambah seiring predatornya semakin berkurang.

Atas penomena tersebut, berdasarkan Kajian Konservasi Alam Lestari Kabupaten Aceh Selatan, pemerintah setempat melaksanakan program penggalian kearifan lokal/pengetahuan lokal di beberapa desa sebagai pilot project dalam melestarikan ekosistem terkait kasus ulat penggerek batang pala. Di antaranya poin kebijakannya adalah dilarang menangkap, memelihara dan memperjual-belikan burung pemakan ulat penggerek tanaman pala, seperti; Murai Batu, Murai Kampong, Cempala dan jenis burung pemakan ulat lainnya.

Kearifan lokal/pengetahuan lokal inilah yang kemudian dijadikan dasar sebagai Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk tata ruang Aceh selatan. Ini sesuai dengan UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, di antaranya memuat klausul mengenai KLHS sebagai satu instrumen dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dan ini sangat sesuai dengan strategi pertanian berkelanjutan.

Kerusakan lingkungan tidak akan memberi pengaruh positif dalam penerapan konsep biological control. Keseimbangan ekosistem alam menjadi tulang punggung dalam pertanianberkelanjutan sehingga keberadaan musuh alami dari OPT tetap berada pada keadaan stabil dan OPT pun bisa tertekan di level ambang keseimbangan.


(Khaidir, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama Aceh (Unaya)